Aduh, Harga beras Melonjak, Emak-emak di Aceh Tenggara Mengeluh

author
Almujawadin

08 Jul 2025 15:40 WIB

Aduh, Harga beras Melonjak, Emak-emak di Aceh Tenggara Mengeluh
Aktivitas jual beli di beras di salah satu toko grosir di Pasar Pagi, Kutacane, emak-emak khawatir kenaikan harga beras tidak terjangkau pembeli, Selasa (8/7/2025). INFORakyat/ Almujawadin.
“Sebelumnya masih dijual dengan harga Rp 205 ribu sampai Rp 210 ribu per sak isi 15 kg, sekarang naik drastis menjadi Rp 245 ribu per sak, pedagang hanya menyesuaikan harga pembelian dari distributor,” kata Melati.

KUTACANE, INFORakyat.co - Harga kebutuhan pokok berupa beras terjadi kenaikan signifikan di Pasar Tradisional Pajak Pagi, Desa Lawe Rutung, Kecamatan Lawe Bulan, Aceh Tenggara, provinsi Aceh sejak awal bulan Juni 2025 lalu.

Terkini, harga beras menyentuh Rp 250.000 per sak isi 15 Kilogram atau setara harga eceran senilai Rp 16.000 per kilogram. Akibat terjadi lonjakan, emak-emak di Aceh Tenggara resah dan mengeluh.

"Sebelumnya masih dijual Rp 205 ribu sampai Rp 210 ribu per sak isi 15 kg, sekarang naik drastis Rp 245 ribu per sak, pedagang hanya menyesuaikan harga pembelian dari distributor," kata Melati, pemilik toko beras di Pajak Pagi, Kutacane kepada INFORakyat.co, Selasa, (8/7/2025).

Sebelumnya, tutur Melati, harga beras di pasaran masih berkutat di kisaran Rp 205.000 hingga Rp 210.000 ribu per sak. Memasuki bulan Juli 2025 temperatur harga beras mengalami lonjakan yang tidak terbendung.

"Kenaikan harga beras bukan permainan pedagang, bisa jadi karena harga gabah naik dan hasil produksi berkurang, kita hanya menyesuaikan harga pembelian dengan penjualan," imbuh Melati mengaku khawatir terhadap daya beli konsumen.

Kondisi kenaikan harga beras sangat dirasakan dan berpengaruh kepada warga, terlebih kaum bu-ibu (emak-emak) yang selalu mengontrol asap dapur untuk memenuhi sajian sehari-hari.

Kenaikan ini harga beras berdampak langsung kepada masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga, apalagi warga kurang mampu, ungkap salah seorang ibu bernama Putri.

Sebagai ibu rumah tangga, tambah Putri, pihaknya mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan pokok akibat lonjakan harga beras yang berbarengan mahalnya harga kebutuhan pokok dan lain-lain.

"Sekarang semuanya pada mahal, bukan hanya beras tetapi menyuruh terhadap lain, sementara penghasilan dan ekonomi masyarakat yang hanya pas-pasan kian terjepit dan susah. Maunya, pemerintah bisa melakukan penstabilan harga agar tidak terus meroket. Jangan biarkan rakyat sengsara, tolonglah bapak-bapak kami," imbuh Putri wanita paruh baya.

Pantauan INFORakyat.co, lonjakan harga beras menjadi sinyal serius terhadap sistem pendistribusian dan pengawasan pangan di kabupaten Aceh Tenggara.

Menurut penduduk, stabilisasi harga, pengawasan dan operasi pasar perlu dilakukan sebagai langkah serta solusi untuk membantu kehidupan masyarakat.

"Lonjakan harga beras berpotensi meningkatkan angka kemiskinan serta berpengaruh dalam membiayai anak-anak menempuh pendidikan, kita berharap pemerintah konsisten dan proaktif melakukan pengawasan terhadap meroketnya harga beras," papar warga yang namanya tidak mau dipublikasi. ||

Tags terkait :

Editor : Sudirman Hamid

Kanal : Ekonomi