"Kami merasa tidak pernah di undang pada kegiatan pembentukan KMP oleh pelaksana, dan kami baru mengetahui bahwa KMP di desa kami sudah terbentuk, ini membuat kami terkejut,” kata Salman.
BLANGPIDIE, INFORakyat.co - Sejumlah pemuda Desa Kuta Bakdrien, Kecamatan Tangan-tangan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menolak pembentukan Koperasi Merah Putih (KMP) di desa setempat karena dinilai tidak terbuka atau nilai "sim salabim"
Mewakili belasan pemuda, Salman mengatakan bahwa pengrekrutan pengurus KMP di desanya tidak dilakukan dengan transparan, bahkan saat rapat pembentukan tidak semua masyarakat diundang, sehingga tidak semua masyarakat tahu bahwa di desa setempat telah dilakukan pembentukan KMP.
"Kami merasa tidak pernah di undang pada kegiatan pembentukan KMP oleh pelaksana, dan kami baru mengetahui bahwa KMP di desa kami sudah terbentuk dan ini membuat kami terkejut. Kami tidak tahu kapan dibentuk, karena yang diundang hanya orang dekat aparatur saja," kata Salman kepada INFORakyat di Blangpidie, Kamis, 19 Juni 2025.
Oleh sebab itu, belasan pemuda desa setempat memprotes pembentukan KMP desa setempat, belasan pemuda meminta agar proses pembentukan KMP dilakukan dengan melibatkan seluruh masyarakat, atau dengan dipilih oleh masyarakat umum.
"Dengan begitu semua punya kesempatan yang sama, bukan hanya orang-orang terdekat aparatur saya," sebutnya.
Baca Juga:
Ikhtisar Tindak lanjut BPK atas 286 Rekomendasi dan 111 Temuan di Aceh Selatan Tahun 2021 – 2025
Salman mengaku pihaknya sudah melakukan audiensi dengan camat setempat, selain itu juga telah mendatangi kantor Keuchik, namun tidak bertemu dengan keuchik lantaran kantor tertutup, namun pihaknya menduga keuchik menghindar tidak mau bertemu.
"Kami bahkan telah mendatangi kantor keuchik untuk audiensi terkait pembentukan KPM karena menurut kami prosesnya tertutup tidak seperti sejumlah desa lain yang melakukan pemilihan anggota KMP ini dengan terbuka dan dipilih oleh masyarakat umum," sebutnya.
Baca Juga:
TTI: Jangan Jadikan Aceh Hanya Penghasil Gas dan Penonton, Hilirisasi Harus di Tanah Rencong
dijelaskan, kehadiran mereka bertemu keuchik hanya untuk meminta kejelasan terkait pembentukan KMP di desa, namun keuchik malah tidak menunjukkan itikad baiknya sebagai seorang kepala desa.
Pihaknya meminta kepala desa untuk menjadwalkan pertemuan masal secepat mungkin untuk membahas terkait pembentukan KMP agar didapat keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak.
"Kami pemuda sangat mendukung program pusat ini, namun kami hanya meminta agar prosesnya lebih terbuka dan setiap kami mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari KMP ini," sebutnya.
Menurutnya, selama keuchik menjabat masyarakat belum pernah mendapat undangan untuk membahas banyak hal terkait permasalahan-permasalahan di desa, baik itu soal penggunaan dana desa, dan program-program yang akan dilakukan menggunakan anggaran desa.
"Sudah sepatutnya keuchik terbuka dengan masyarakatnya. Kami berharap pak keuchik tidak main kucing-kucingan, dan hanya peduli kepada saudara-saudara dekatnya saja," katanya.
Terpisah, Keuchik Desa Kuta Bakdrien, Zulkifli, mem bantah keras terhadap tuduhan bahwa pembentukan KMP di desanya menimbulkan gejolak.
Ia menyatakan bahwa hal itu tidak berdasar, menyesatkan, dan mencoreng nama baik desa. Sebab itu, dirinya meminta para pihak untuk tidak menggiring opini publik seolah-olah Desa Kuta Bakrieland sedang kacau.
"Faktanya, pembentukan pengurus koperasi itu dilakukan langsung oleh pejabat Disperindagkop Abdya dalam forum resmi dan terbuka, disaksikan oleh pendamping kecamatan serta tokoh masyarakat yang hadir," tegas Zulkifli.
Ia menekankan bahwa pemerintah desa tidak memiliki hak untuk menunjuk atau menentukan pengurus koperasi, melainkan hanya mendukung secara administratif dan memfasilitasi proses yang digelar oleh dinas terkait.
"Keuchik itu pengawas, bukan pengatur koperasi. Jadi kalau ada yang menuding-nuding tanpa paham alur, itu sangat keliru. Silakan cek dokumen dan daftar hadir rapat, semuanya lengkap," ujarnya.
Zulkifli juga menyesalkan adanya pihak-pihak yang menurutnya terus mencari celah dan memelintir fakta dari setiap program yang dijalankan di desa.
"Ada segelintir individu yang selalu menyoroti semua kegiatan, tanpa pernah hadir langsung atau meminta klarifikasi. Ini bukan kritik yang membangun, justru menciptakan kegaduhan dan mencemarkan citra desa. Kepada seluruh elemen masyarakat Kuta Bakdrien untuk tetap bersatu dan mendukung kemajuan desa, bukan malah menyebarkan narasi negatif yang merugikan martabat desa sendiri." Pungkasnya. ||






