“Sering melihat pengendara sepeda motor maupun mobil, menyalakan lampu samping (sain) sebelah kiri tetapi membelok ke arah kanan, ini bukan dongeng tetapi fakta seseorang dalam mengambil sikap, pura-pura pencet kiri tujuan ke kanan”
JARI JEMARINYA, terlihat sudah tidak selincah pemain piano, gitaris dan kecapi maupun penabuh gendang, matanya tidak setajam pisau dan burung elang, rambutnya penuh uban, kulitnya mulai keriput pertanda usia sudah setengah abad. Namun terlihat kokoh dan bersemangat bertarung hidup mengasah ketrampilan walaupun tidak apik.
Hanya bermodal laptop tua dengan tombol usang, ia merajut hari menelusuri debu jalanan, menyingkap tabir, menuang imajinasi, konsentrasi membubuhi narasi walaupun tidak seindah permata, bukan sekedar mengumbar cerita tetapi bisa menggugah ruang publik dibalik rangkuman yang ditoreh.
"Skil dan sebuah karya itu nyata, tidak bisa diplesetkan milik siapa, gaya bahasa, kualitas dan nilai seni merupakan turunan dari imajinasi, bukan copy paste asal tangkap dan tuangkan. Memory, daya pikir dan serapan itu dapat disempurnakan dari materi awal walaupun tidak sesejuk embun," ungkap Pak Tua beberapa tahun lalu sebelum ia berpulang.
Sang guru yang telah tiada, hidup penuh semangat bermodal laptop tua, penggagas imajinasi tanpa ilusi. Karyanya kerap di publish di halaman depan media harian Waspada. Kala itu kami sama-sama menggubah tulisan dan sering belajar kepada dirinya.
Ia berpesan, "Jadilah orang yang memiliki sikap, bukan asal comot dan meniru orang lain, pekerjaan dan skil itu harus dijiwai dan dicintai. Setiap perjuangan akan diawali rintangan, cobaan bahkan diuji batas kesabaran. Skil dan kualitas itu beda-beda, jangan takut menghargai orang yang lebih baik dan menyadari kelemahan sendiri," ujar mendiang sebelum pensiun dari PNS.
Yang membuat tidak habis pikir, wartawan berkelas dan senior asal Medan Sumatera Utara, As Atmadi menyebutkan, "Jadi orang, jangan seperti pengendara, menyalakan lampu sein sebelah kiri lalu belok ke arah kanan, jangan pimplan. Nanti susah orang menghargai dan mempercayaimu," celetuk As Atmadi sekira tahun 2009 dalam pelatihan jurnalistik.
Ucapan As Atmadi, sosok mampu menulis skenario drama dan perfilman itu, menjadi pahatan dan perdebatan batin menjelang tidur di sebuah kamar Hotel Dharma Deli, Medan. Setelah dihayati, ternyata maknanya sangat dalam dan menjadi modal dalam melangkah, mengambil keputusan dan kebijakan bagi kepala rumah tangga sekalipun pimpinan di level apapun.
"Jadilah diri sendiri, jangan bergaya dan berlagak hebat, karena langkah dan ujung kaki perjalananmu dinilai dan diintip orang lain. Seburuk apapun karya dan hasil yang diperoleh itulah yang terbaik, bukan karena bisikan atau hasutan orang lain, sikapmu mencerminkan jiwamu, jangan bimbang mempertimbangkan yang terbaik sekalipun muncul resiko," ujarnya keesokan hari saat sarapan pagi.
Sesungguhnya sangat tidak elok sein kiri belok kanan, bisa-bisa berbahaya di persimpangan jalan, bahkan orang lain juga melihat tingkahmu yang tidak konsekuen dalam bertindak.
Ia melanjutkan, seseorang yang berkata A tetapi dilakukan B, itulah ciri-ciri orang yang tidak baik dan tidak memiliki sikap, petuah serupa muncul dari seorang ulama yang jati dirinya kurang pantas ditulis.
"Jangan sekali-kali memfitnah, menjelek-jelekan atau menjatuhkan seseorang kepada orang lain, terutama kepada penguasa, pimpinan dan orang ternama. Karena, bagi orang pintar dan cerdas, memfitnah itu adalah upaya penjilatan dan pembusukan serta menganggap kamu lebih tidak baik dan buruk," jelas ulama itu.
Selain perbuatan dosa dan dilarang agama, orang yang membawa fitnah dan hasutan itu akan dinilai secara spontan tidak baik dan ada maksud serta tujuan tertentu. Selanjutnya, dia akan dipelajari sedetail-detail mungkin sepak terjang dan tingkah laku si pemfitnah, termasuk kualitas dan profesionalitas dan kredibelnya, bukan berlagak dibalik topeng dari plastik retak.
"Barusaha dan berjuanglah sungguh-sungguh, tunjukan kemampuan, inovasi, karya nyata dan kerja keras, bukan pukulan ember kosong di adi bantaran sungai, dikhawatirkan percikan air akan menimpa mukamu sendiri. Jangan terlalu dianggap raja pada istana kecilmu jika tidak ingin terombang-ambing," tandasnya.
Artikel ini dilansir Haba Refaksi bukan untuk siapa-siapa, tetapi mengingatkan kita semua untuk lebih tafakur fan intropeksi diri, teruslah berjuang dan bekerja keras demi meraih harapan bukan merajut mimpi diatas mimpi dan menabur benih ilusi. ||





