Fenomena Sandal Jepit, Tercampakan Diantara Produk Baru, Terbuang Karena Benda

author
Sudirman Hamid

07 Jun 2025 12:04 WIB

Fenomena Sandal Jepit, Tercampakan Diantara Produk Baru, Terbuang  Karena Benda
ILUSTRASI: Kondisi sandal jepit setelah digunakan, tercampak kala tidak dibutuhkan. INFORakyat.co/Sudirman Hamid.
“Nasib sandal jepit di antara produk kulit yang belum tentu unggulan, walaupun labelnya bersponsor superior, sandal jepit setia melekat di tapak kaki tuannya hingga menjamah tempat kotor dan jijik, namun terbuang dan dicampakkan ketika tidak lagi dibutuhkan”

FENOMENA Sandal jepit di antara jajaran produk dan pendatang baru dalam skema kebutuhan sehari-hari. Miris rasanya, benda praktis dan setia ini saat tidak lagi diperlukan tercampakan akibat peredaran zaman bergulir kesenjangan.

Sandal kulit harganya murah, semurah kondisi, sifat, karakter dan keperluan setiap orang, tidak mewah, mudah diperoleh dan tidak butuh tempat spesial ketika dibeli dan dilepaskan setelah digunakan.

Alas kaki berupa Sandal jepit tidak seistimewa merawat dan menjaga sepatu atau sandal kulit yang berlabel tinggi dan berkualitas mentereng walaupun belum tentu lebih unggul.

Sandal jepit melekat setia di kaki tuannya, rela berbaur berlumpur, terkena terik matahari hingga dibawa ke tempat menjijikan serta lokasi bersih.

Logika berpikir, sandal jepit tetap sandal jepit. Ia juga sadar sebatas mana pemanfaatannya karena sangat dipahami suatu ketika akan dibuang dan tidak dipedulikan.

Sesungguhnya sandal jepit sering menemani telapak kaki, menjadi sahabat ketika bersuci hingga berwudhu, tidak jarang menapak duri dan beling agar "tuan" tidak terluka.

Kadang kala, sandal jepit dianggap benda sepele serta tidak jarang disudutkan, ia diam diremehkan, ia memperlihatkan kepatuhan dan kesabaran kepada majikannya, kendatipun hukum alam ia merasakan sakit.

Disisi lain, sandal jepit tergores perasaan yang dalam, kecewa, namun wajah kusammu tetap sabar meniti waktu. Pantang sandal jepit berdendang cemburu apalagi berbalas lagu dengan keadaan dimana ia dipaksakan untuk tidak lagi digunakan. Sandal jepit itu riwayatmu bercumbu kelamnya tingkah laku.

Mundur selangkah untuk mengalah, rasa perih ditelan sendiri walaupun batinnya tertekan dan tersiksa, ia tidak perdulikan suara-suara yang menyeringai membuntuti cerita edan yang belum pasti sesempurna dari busur panah sponsor berlevel kualitas tetapi minoritas.

Semua orang tahu mekanisme dan tatacara sebuah instrumen yang mendayu-dayu dan merayu, tergolek dalam kanvas yang dicap belum teruji dalam rentetan berkepastian.

Saat organ dan biola sedang menggulir lagu dan mengubah musik untuk menipu kalbu. Namun syaraf jutaan umat memahami itu dungu, alibi jiwa yang terguncang mau di sapu dari belenggu kemunafikan, padahal itu hanya ilusi yang ditoreh dari waktu ke waktu dan bukan program baru.

Percaya atau tidak, itu organ dan biola bersuara merdu walaupun tubuhnya menggigil diterpa kondisi alam yang belum tentu mengunduh kesuksesan.

Sandal jepit oh sandal jepit, riwayatmu kini diantara lagu-lagu tidak akan mampu mengelupas karet sampai tipis, kini kau tampak tenggelam, diam dan terasing dari orang-orang yang pernah berharap jasamu, bahkan diidolakan karena butuh perhatianmu.

Sandal jepit!!, tegarlah menghayati dan meneguk suasana alam di antara ranting-ranting yang berdesing patah, kau sapa pagi hingga berjuntai malam, jangan bersembunyi di balik kenyataan karena waktu dan kesempatan. "Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya"

Saat ini, suara antara suara bergema, terdengar lengkingan tak ramah, menjatuhkan pilihan dramatis bersemayam kepahitan hingga ke sendi-sendi Aceh Selatan negeri batuah berseliweran kecewa.

"Kemana sirnanya embun pagi, kemana pula napas-napas pujian yang dulu mengelu-ngelu dan mendekatimu, ketika tubuhmu terkapar, banyak orang melupakan dirimu bahkan meludahimu dengan sumpah serapah, berusahalah untuk bangkit, tunjukan jati dirimu yang setia, profesional dan berkualitas seperti sandal jepit yang pernah kami kenal," kata Pak Tua yang melihat dari jarum jam berbalik arah.

Fakta tidak bisa disangkal, jika mengaku unggulan tapi palsu, genggaman kekuasaan bukanlah segala-galanya karena dihadapkan dengan waktu. Jangan sampai buruk muka cermin dibelah, sekuat apapun besi hanya karatannya sendiri yang mampu memperburuk dan melemahkan mutu besi hingga terkubur dan melepuh

Jadikanlah sandal jepit yang dulu, berdiri kokoh di antara puing-puing kehancuran, rawatlah dirimu sendiri, jangan bersembunyi dibalik layar yang rapuh, rapatkan barisan untuk silaturahmi, tidak ada sedu sedan, rajut bunga-bunga api agar padam dan menyejukkan.

Suatu saat kamu akan didambakan umat ketika sumbu harapan memihakmu, maka tersenyumlah walaupun prahara menyakitkan. Ingatlah, jangan sembarang membuang dan mencampakan sandal jepit, suatu saat kita akan membutuhkan jasanya. Sandal jepit tidak akan melepuh diantara produk-produk baru yang bercap unggulan.

Mari kita sadari, setitik jasa dan kebaikan orang lain harus menjadi catatan dan diingat sepanjang zaman, jangan sampai setelah tiada dilupakan, sandal jepit adalah benda ringan, praktis dan tidak terlalu muluk untuk digunakan, biarkanlah ia menjaring waktu diantara bermunculan produk baru tanpa harus saling mengkianati. ||

Tags terkait :

Editor : Sudirman Hamid

Kanal : Opini