Kisah Kehidupan di Antara Duka, Kesetiaan dan Cinta (Tamat)

author
Redaksi

17 Mar 2025 13:52 WIB

Kisah Kehidupan di Antara Duka, Kesetiaan dan Cinta (Tamat)
ILUSTRASI: Sumber Google
“Dalam kondisi berbahaya dan bersabung nyawa, namun tidak hilang ingatan, sepenggal doa seraya bertasbih memohon perlindungan dan keselamatan perahu terseret dari tumbuhnya yang diamuk ombak. Timbul tenggelam dan meneguk asinnya air laut berulang kali,” ujar Hasanuddin.

SEMUA FASILITAS terhempas hanyut, amukan badai dan tingginya gelobang meluluhlandakan jiwa tegarnya, tidak ada perahu lain terlihat, hanya deru ombak bergemuruh, arah daratan tertutupi awan, hujan ibarat tirai penghalang dan ombak benar-benar murka.

Gentingnya keadaan sebuah bukti perjuangan untuk tidak tenggelam sia-sia, Hasanuddin berusaha keras menggapai perahu yang terlepa, kondisi diombang ambing ombak, ia berhasil meraih sebuah pelampung untuk alat penyelamatan sementara.

Selama satu jam pontang panting dipopor ombak, dengan tenaga yang masih tersisa korban kembali berusaha menggapai perahu yang karam. Tujuannya, agar tidak terlalu terkuras tenaga dan kehabisan napas.

"Akhirnya saya berhasil berpegang pada badan perahu, sementara bagian kaki dan tubuh harus terus berenang memacu keseimbangan dari hempasan gelombang, sebuah pelampung menjadi fasilitas peringan dan sudah diikat kuat pada bagian pinggang," papar Hasanuddin dalam wawancara khusus, Minggu (16/3/2025) mengenang dukanya.

Masih historis diceritakan Hasanuddin, "Saya coba raba lambung perahu yang sudah dipenuhi air, saya dapati tali nilon dan pisau yang ternyata tidak ikut hanyut. Saya ikatkan tali ke badan dan disimpulkan pada bagian perahu supaya tidak terpelanting lagi. Suasana dingin menerjang, badan mulai terasa kebas-kebas," tuturnya.

Ia memperkirakan, peristiwa karam terjadi pada pukul 10.30 WIB, dua sampan lain sudah sampai ke daratan karena tidak terlalu jauh berlayar. Selain Hasanuddin masih ada satu sampan lagi yang belum kembali ke daratan.

"Kala itu saya bertekat untuk mengharungi lautan bila malam sudah tiba, alasanya mau tidak mau harus berenang menuju daratan yang bisa ditandai arah karena cahaya lampu," imbuhnya.

Angin mulai mereda tetapi ombak masih mengguncang tinggi. Sudah lima jam terkatung-katung dan terombang ambing, dari jauh terlihat sebuah boat (Kapal Motor) keluar dari Pelabuhan menuju lautan," kisahnya lagi.

Sayangnya sebut Hasanuddin, kapal itu putar Haluan ke arah barat, sementara Hasanuddin sudah jauh terbawa arus ke posisi Selatan. Beberapa menit kemudian, kapal yang sangat dikenali pemiliknya itu kembali melaju ke arah lautan lepas. Posisi Hasanuddin kembali tertinggal.

"Melihat kondisi yang tidak menguntungkan, saya mencoba membuka ikatan bendera rawai yang berada di ujung perahu. Jatuh bangun ke air, ikatan sukses dibuka dan dipasang kembali lebih tinggi seraya berdoa dapat terkibar dan akan terlihat awak boat   yang diyakini mencari korban," ulasnya.

Benar saja, atas kehendak Allah SWT, dari kejauhan bendera warna orange di perahu saya terlihat oleh seorang awak boat. Padahal, mustahil hal tersebut terjadi, mengingat ukuran bendera sangat kecil dan kapal itu berada sangat jauh.

Semua atas kehendak dan kekuasaan Ilahi Rabbi, dengan kecepatan tinggi kapal itu melaju ke arah perahu yang tidak terlihat lagi di permukaan air karena dipenuhi air laut, hanya bendera berkibar diterpa angin.

"Diluar pengetahuan, rupanya awak kapal juga membawa teropong, bendera kecil itu terbidik. Begitu dekat, mereka berteriak, itu banag sudah sangat lemah, cepat di tolong," terdengar suara sang AKB memberi aba-aba.

Kapal menurunkan stempel untuk memberi pertolongan. "Saya diangkat ke dalam kapal dengan tubuh pucat pasi dan lapar. Jika saja selama 30 menit lagi tidak datang bantuan, kaki yang mulai kejang dipastikan kaku dan kondisi tubuh akan tenggelam walaupun bagian tubuh diikat pada perahu," terangnya.

Ternyata di dalam kapal sudah berada kawan satu perahu lagi yang terdampak terpaan badai tetapi tidak ikut karam. Untuk menenangkan pikiran dan membuat orang kampung serta keluarga tidak cemas, ku sulutkan sebatang rokok kemudian divideokan untuk dikirim ke daratan sebagai isyarat korban ditemukan dalam keadaan selamat.

"Sampai di Pelabuhan kecil sekitar pukul 16.00 WIB, terlihat ribuan warga menunggu dan sudah berusaha melakukan pencarian ke lokasi-lokasi pendaratan. Setengah malu dan dihantui perasaan bersalah, saya berjalan pelan karena tenaga telah terkuras. Anak-anak dan istri saya menangis histeris menyambut kepulangan saya dari tim pencari," ungkap Hasanuddin.

Ada hal yang menjadi inspirasi, dimana sebelum perahu kandas dua ikat ikan hasil pancingan berhasil selamat karena sudah duluan diikat, sementara yang lain habis terseret ombak.

"Sejak terombang ambing, saya bernazar, jika berhasil selamat ikan-ikan yang masih tersisa itu dikasih untuk anak yatim. Doa dan niat itu saya tunaikan setiba di daratan," sergahnya seraya tidak kuasa menetes air mata.

Dari peristiwa yang menghebohkan itu, tercatat sebagai memori kelam tentang beratnya pertarungan kehidupan dan menjadi catatan sejarah kembalinya ukiran mata pena ke kancah jurnalistik pada pertengahan 2022.

"Asah uji kembali saya peragakan walaupun tidak seulet dulu lagi. Dorongan dan permintaan anak istri membuat saya hengkang turun melaut. Kami susah dan cemas yah, jangan lagi ke laut ya?? Ayah itu tidak peduli mendung, hujan dan ombak besar," papar Hasanuddin meniru ucapan keluarga.

Masih harapan dan keinginan keluarga Hasanuddin, "Kami khawatir terjadi apa-apa, kembalilah jadi wartawan dengan tidak menyakiti hati orang"

Kami tidak berharap uang, asalkan ayah selamat dan terjaga kesehatan. Untuk fasilitas biarlah kami yang memikirkan," desak anak dan istri Hasanuddin ikut berkisah kepada media merunut peristiwa dahsyat yang pernah dialami keluarganya.

Kisah duka pertarungan hidup ini bagaikan cemeti untuk bergabung kembali dengan teman-teman senasib dan seperjuangan. Tidak terlalu berlebihan dengan mengaktifkan dengan permainan tinta, karena hidup ini lebih aman bekerja keras dan tidak mengusik orang lain, kiranya di lautan lebih tenteram merajut makna kesetiaan walaupun pendapatan seadanya.

"Keseharian, kadang-kadang polesan goresan pena sempat membuat orang lain tersinggung, menderita atau menerima efek jera. Kepada Allah saya memohon ampunan dalam meretas profesi. Hidup ini tidak selamanya beruntung, maka pada-padailah berbuat baik dan hindari berbuat buruk," tutupnya. (**).

Catatan: Cerita ini hanya fiksis belaka, tempat dan nama bukan sebenarnya.

Tags terkait :

Editor : Sudirman Hamid

Kanal : News