“Sembuh dari gerogotan penyakit, Simponi catatan pena mulai meracik tulisan di atas HVS dan dikirimkan melalui Pos kilat ke meja Redaksi surat kabar Mingguan terbitan Medan, Sumatera Utara”
PERISTIWA bersulam nestapa menjadikan pengalaman pahit yang ditebus dengan duka lara. Pada tahun 2008, sebuah media mingguan terbitan Medan, Sumatera Utara membuka lowongan wartawan untuk Aceh, khususnya Aceh Selatan.
Almarhum wartawan senior DNI mengajak Hasanuddin untuk bergabung dan mencoba menulis berita, saat itu jumlah komputer atau keberadaan elektronik belum semaju zaman now (era digitalisasi). Hasanuddin menulis narasi diatas HVS lalu dikirim ke Redaksi melalui PT POS, maklum ia belum bisa mengoperasikan komputer, apalagi aplikasi email alias "buta IT"
Dengan tekad dan minat yang tinggi disertai jiwa pantang menyerah, akhirnya Hasanuddin belajar secara otodidak untuk menghindari agar berita tidak "basi" tayang (aktual)
"saya mulai bisa mengoperasikan komputer melalui jasa Warung Komputer (Warnet). Berita pertama adalah peristiwa kebakaran yang memusnahkan puluhan pintu rumah toko dan petugas PLN terkena musibah saat memotong arus listrik pada tiang," ungkap Hasanuddin melanjutkan kisah diambang sore, Sabtu (15/3/2025).
Betapa hati berbunga-bunga, katika berita pertama menjadi cendera mata, apalagi tampil di halaman utama (headline) surat kabar mingguan. Sebuah kebanggaan luar biasa bagi Hasanuddin hingga koran itu diperlihatkan kepada sang istri yang tidak jemu-jemu mengumbar senyuman kebahagiaan.
Tidak mesti harus malu dan bersikap apa adanya, untuk kemajuan, percepatan dan keakuratan hasil karya penulisan wartawan harus memiliki akun Email resmi. Kalau sekarang semua serba canggih, bahkan sebelum riwayat Hasanuddin menggema, para jurnalis tempo dulu menulis berita dengan mesin ketik.
"Email pertama saya dibuat orang lain, saat ini orang itu menjabat jabatan penting di birokrasi pemerintahan. Hindari dungu, egois dan sikap memperalat orang lain, belajar tidak memandang batas usia. Sadar banyak kekurangan, saya terus berkarya sambil belajar," ungkap Hasanuddin mengakui banyak kelemahan.
Berawal dari itu, Hasanuddin mengakui tidak sungkan-sungkan mengikuti pelatihan jurnalistik, baik di Aceh maupun di Sumatera Utara. Suatu ketika, Hasanuddin mengikuti pembekalan sekaligus diuji kemampuan sebagai wartawan menghadirkan narasumber terkemuka di Hotel Dharma Deli Medan.
"Dari seluruh peserta yang hadir, perwakilan Aceh, Medan dan Pekanbaru, tiga orang wartawan meraih nilai A. Alur aspirasi terinspirasi dari sang pelatih At Asmadi. Banyak ilmu jurnalis dititiskan At Asmadi dan almarhum senior mantan salah seorang Ketua Balai PWI," kenangnya.
Tidak lama bertahan mengasah karya di media tersebut, walaupun siklus perubahan begitu cepat terjadi peningkatan dari media mingguan menjadi harian dalam tempo lebih kurang dua tahun.
Secara kebetulan, sebuah Perusahaan surat kabar ternama berbasis media cetak dan memiliki jaringan ke semua provinsi di Indonesia, Hasanuddin mendapat tawaran untuk menulis di media itu.
"Hitung-hitung menambah pengalaman, petualangan pun dimulai, rangkuman karya jurnalis mulai menggema. Selama bertugas Hasanuddin sering dikirim ke daerah lain untuk meng back-up berita tentang peristiwa-peristiwa penting pada tahun 2013 sampai 2014," paparnya.
Roda kehidupan pasang surut melingkari dan menjelajahi setiap manusia batas, minat dan keinginan. Terinspirasi dari nasehat dan pesan ulama, pada Juli 2018 Hasanuddin menanggalkan atribut kewartawanan dan beralih menyeberangi lautan dengan kapal kecil.
Sepanjang empat tahun berselancar dengan perahu bermesin, pada tahun ketiga tepatnya 25 Juli 2021 Hasanuddin kembali diterpa musibah. Angin kencang menghantam, memicu gelombang amarah. Sampan Hasanuddin porak poranda dihajar ombak hingga tidak berkutik.
Pagi itu udara cerah, tidak ada isyarat badai akan melanda. Empan perahu turun melaut usai libur hari Raya Idul Adha 1442 hijriah tahun 2021. Seperti biasa, kami turunkan alat-alat pancing untuk menangkap ikan.
"Tidak lama berselang pancing rawai diangkat, baru setengah rawai diangkat, hasil tangkapannya lumayan banyak. Tiba-tiba kaki langit tertutup mendung yang diperkirakan terjadi angin kencang. Takut akan bahaya, pancing rawai saya potong dan bergegas pulang," urainya.
Hasanuddin menyambung lagi, "baru setengah perjalanan arah pulang ke daratan, deru hembusan angin kencang terdengar. Belum siap membuat cara keselamatan, angin berhembus dahsyat seraya meniup air laut terhempas ke perahu. Dalam sekejap ombak tinggi dan pecah.
"Sampan saya menungkik-nungkik dipopor ombak sambil masuk air. Kali pertama dan kedua saya selamat, tiba-tiba diamuk ombak paling tinggi, perahu tidak terkendali dipukul ombak dari belakang. Tubuh saya terpelanting ke depan dan jatuh, air masuk disertai mesin mati total. Sampan karam, saya terapung-apung dan terus menerus dihantam ombak," cerita Hasanuddin. (bersambung)





