“Misteri dan penuh tanda tanya, pasca pembantaian lima korban meninggal dunia dengan tragis dan satu orang kritis, terduga pelaku menghilang bak ditelan bumi, bisa jadi bersembunyi di hutan atau berkubang di perbukitan”
KUTACANE, INFORakyat.co – Peristiwa pembunuhan sadis di Desa Uning Sigugur Kecamatan Babul Rahmah, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh pada Senin, 16 Juni 2025, memantik perhatian publik bahkan penuh misteri dan kelam.
Sampai hari keenam kejadian kasus golok berdarah yang merenggut lima nyawa dan satu orang kritis, masih terbaring di RSUD-Sahuddin Kutacane, sang pelaku yang disebut-sebut saksi bernama Adrian Syahputra belum berhasil ditangkap.
Polres Aceh Tenggara POLDA Aceh sudah menetapkan terduga sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO), Sabtu, 21 Juni 2025. Seiring belum ditemukan (ditangkap) sosok diduga pelaku, berbagai cerita dan kisah berseliweran di tengah-tengah warga yang masih dihantui ketakutan (trauma).
Sejak terjadi pembunuhan, jajaran kepolisian Aceh Tenggara terus berjibaku memburu pelaku yang dinilai misteri, sadis dan penuh tanda tanya. Personel menyisir berbagai lokasi yang dicurigai, termasuk mengendap di hutan. Sementara itu, sang ibunda (Sanimah) berharap anaknya menyerahkan diri kepada pihak kepolisian.

Cerita horor pun berselancar dari mulut ke mulut di balik kehidupan pelaku pembunuhan berantai membuat 5 korban meregang nyawa serta satu orang mengalami kritis sedang dirawat di rumah sakit.
"Bukan kasus pembunuhan biasa, dalam satu hari dan segenap mata enam korban terkapar dengan luka mengenaskan, babatan golok pelaku diluar nalar dan dinilai tidak berprikemanusiaan, apalagi korban nyawa menimpa bocah kecil berusia 2 tahun," ungkap penduduk yang namanya diminta tidak ditulis, mengaku takut karena pelaku belum berhasil diringkus.
Diperkirakan pelaku seakan-akan hidup di pegunungan diantara rimbunnya hutan belantara, indikasi itu mengarah sebagai lokasi persembunyian yang nyaman bagi Andrian Syaputra setelah menghabisi lima korban dan melukai Matia yang selamat. Motif amarah yang dilakoni juga belum tersingkap.
Tersiar kabar, belasan tahun semenjak berpisah dengan sang ibu tercinta (Sanimah), terduga pembunuh tinggal bersama ayahnya yang terindikasi seorang residivis, diduga terlibat hal yang serupa dalam bingkai kelam dan berdarah.
Dari pengakuan warga, kehidupan di hutan menjadi sebuah kesulitan bagi kepolisian dalam mendeteksi keberadaan pelaku, walaupun perburuan terus diupayakan. Disudut lain, tidak seorangpun mengetahui dimana lokasi persembunyian sosok yang menjadi momok menakutkan itu.
Baca Juga:
Bantuan Pascabanjir Aceh Singkil Tersendat, Warga Geram Jadup Tertahan dan Rehab Rumah Belum Jalan
Kapolres Aceh Tenggara AKBP Yulhendri, SIK saat di temui https://inforakyat.co di ruang kerjanya mengatakan, sejak hari kejadian sampai hari keenam pasca peristiwa maut itu pihaknya terus memburu pelaku yang identitasnya sudah dikantongi. dan ditetapkan sebagai DPO.
"Upaya pencarian yang dikerahkan kepolisian agak kewalahan, dia (terduga) merupakan warga yang dinilai primitif dengan riwayat terpendam dan tertutup, namun kami tidak tinggal diam walaupun harus menerobos hutan," ujar Kapolres Sabtu (21/6/2025).
Menurut AKBP Yulhendri, informasi yang diendus dari masyarakat, terduga pelaku diprediksi tinggal di pegunungan yang berada di tengah hutan. "Jadi sulit terlacak, hari ini kita keluarkan DPO-nya," jawab Kapolres Aceh Tenggara. ||




