Menyedihkan, Kondisi Rumah Dinas Guru di Subulussalam Rusak Parah, Disdikbud Terkesan Tutup Mata

author
Khairul

13 May 2025 10:49 WIB

Menyedihkan, Kondisi Rumah Dinas Guru di Subulussalam Rusak Parah, Disdikbud Terkesan Tutup Mata
Pengawas dan Pendampingan Sekolah Muhammad Nasir, S.PdI, M.Pd saat meninjau kondisi Rumah Dinas Guru SDN Lae Ikan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. INFORakyat/Istimewa.
"Kondisi Rumah Dinas Guru SDN Lae Ikan, Kecamatan Penanggalan Kota Subulussalam peninggalan Sekolah Inpres, kerusakannya sangat parah dan memprihatinkan, bahkan ada yang sudah rubuh,” kata Muhammad Nasir.

SUBULUSSALAM, INFORakyat.co - Pengawas Pendamping Sekolah pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Subulussalam Provinsi Aceh menyebutkan, bahwa kondisi Rumah Dinas Guru (RDG) SDN Lae Ikan rusak parah, keadaan itu terkesan loss dari  dari perhatian dinas atau pemerintah.

Perihal tersebut merupakan hasil temuan Tim Monitoring Pengawas Pendamping Sekolah Disdikbud Subulussalam, Muhammad Nasir, S.PdI, M.Pd saat meninjau kondisi SDN Lae Ikan, Jumat kemarin, 9 Mei 2025.

"Kondisi Rumah Dinas Guru SDN Lae Ikan aset peninggalan Sekolah Inpres Desa Lae Ikan, Kecamatan Penanggalan sangat parah, memprihatinkan, tidak layak huni dan ada yang sudah rubuh,"  ucap Muhammad Nasir melalui pesan WA-nya kepada INFORakyat, Senin (12/05/2025).

Dikatakan Muhammad Nasir, andai kata ada kebijakan dan perhatian dari pemangku kebijakan selama ini, kondisinya diyakini tidak separah sekarang.

Kondisi lantai Sekolah SDN di Subulusslam. INFORakyat/Istimewa

Mirisnya, sambung Muhammad Nasir, sejumlah guru yang mengajar di sekolah berjarak antara 20 s/d 30 km dari pusat Kota Subulussalam ini, tidak berdomisili atau menempati rumah dinas guru atau menetap di Kampung Lae Ikan.

"Hasil pemantauan kami, hampir 99,9 persen guru yang bertugas di SDN Lae Ikan tidak berdomisili di lokasi sekolah. Ada yang tinggal di Kecamatan Simpang Kiri dan Penanggalan. Kendala lain, ada guru yang tidak memiliki kendaraan sehingga untuk pergi dan pulang sekolah menumpang kendaraan teman atau harus memanfaatkan jasa angkutan umum Aceh – Sumut. Faktor ini bisa menjadi kendala proses belajar mengajar," imbuh Muhammad Nasir lagi.

Ia mengatakan, meskipun bangunan RDG itu peninggalan SD Inpres beberapa tahun silam, dipastikan tak harus dibiarkan sampai hancur total. Pasalnya, jika bangunan itu direnovasi atau diperbaiki serta dibangun baru, manfaatnya sangat penting untuk kelangsungan pendidikan.

Menurut Nasir, seyogyanya SDN Lae Ikan yang posisinya berada di daerah perbatasan, pantas dijadikan ikon dan contoh bagi daerah ini, baik prasarana, kualitas dan kuantitas dalam meningkatkan mutu pendidikan.

"Bukan justru seolah-olah dimarjinalkan, tertinggal dan bahkan tutup mata. Seharusnya menjadi ikon di Pintu Gerbang perbatasan bukan memperlihatkan Gambaran Kemiskinan Kota Sada Kata Subulussalam," paparnya.

Selain fakta di SDN Lae Ikan, Pengawas dan Pendamping Sekolah juga menemukan indikasi memprihatinkan di Kecamatan Rundeng, Sultan Daulat, Longkib dan Simpang Kiri. Kondisi dan keberadaan Rumah Dinas Guru rusak dan berangsur ditelantarkan.

Masih kerterangan Muhammad Nasir, dimana kondisi SDN Bawan, Sultan Daulat, meskipun gedung dan bangunan baru beberapa tahundi bangun, namun keadaannya sangat memprihatinkan. Bukan hanya itu, sekolah juga tidak dilengkapi MCK, mobiler dan pagar.

"Kami sebagai Pengawas Pendamping Sekolah hanya bisa mendengar curhatan para guru yang sedang fokus dan gigih untuk mencerdaskan putra-putri bangsa. Mereka (guru) berharap muncul seberkas sinar dan setitik embun di era Pemerintahan Haji Rasyid Bancin - M. Nasir (Rabbani), semoga Lembaga pendidikan dapat diperhatikan dengan baik dan optimal," celetuknya.

Hingga berita ini disiarkan, INFORakyat belum berhasil mendapat informasi dari Kepala SDN Lae Ikan, terkait temuan atas kunjungan tim monitoring Disdikbud setempat. Media ini sudah berusaha mengkonfirmasi melalui pesan WA-nya, namun belum ada tanggapan. ||

Tags terkait :

Editor : Redaksi

Kanal : Pendidikan