Merajut Keadilan, Leadership Strong Berperan Menata Pemerataan Sesuai Kebutuhan dan Kondisi

author
Redaksi

17 May 2025 13:36 WIB

Merajut Keadilan, Leadership Strong Berperan Menata Pemerataan Sesuai Kebutuhan dan Kondisi
ILUSTRASI: Sosok pemimpin dalam keluarga, organisasi dan pemerintahan jangan sampai kehilangan tongkat. INFORakyat/Foto Google.
"Mangat-mangat peulara bayeun (cicem) kureung umpeun diplueng lam rimba, museum meu'ou diwo sabouh museum seumekoh diwo bandua. Meunyo get-get peutimang gaseuh dimeu'habuh setia rakyat ke Raya"

GONJANG-GANJING, pro dan kontra kerap mewarnai fenomena jagat dalam perputaran roda zaman dan konstentasi sumbu kehidupan, mulai rasa puas, senang, dukungan dan secuil kebanggaan menghiasi alur perjalanan. Sebaliknya, kontradiktif dan kurang menyenangkan juga hadir menyertai polemik, laksana hiasan dan seni sebuah perjuangan.

Kita kutip saja syair yang dilantunkan seniman Aceh dalam seni dan kebudayaan di panggung Seudati, "Mangat-mangat peulara bayeun (cicem) kureung umpeun di plueng lam rimba, museum meu"ou diwo saboh museum seumekoh diwo bandua. Meunyo get-get peutimang gaseuh, dimeu'habuh seutia rakyat keu gata"

Dalam bahasa Indonesia, artinya, "Enak memelihara burung kurang umpan lari ke rimba (hutan), musim membajak sawah pulang seekor, musim panen padi pulang keduanya. Kalau baik-baik menata kasih sayang dan berkeadilan, selamanya kesetiaan rakyat untuk saudara"

Syair berupa hadih maja itu setidaknya menjadi gambaran nasehat dalam mengarungi berbagai kebijakan bagi kita semua, baik sebagai Kepala Keluarga, organisasi dan pemerintahan maupun dalam lingkungan masyarakat.

Memaknai konsep kehidupan dan pengambilan kebijakan, tentu saja "Kata Adil" itu bukan serta merta merata tetapi disesuaikan dengan semua kondisi, namun tetap berpegang teguh pada prinsip tidak ada perbedaan antara "anak tiri dan anak kandung, lawan dan Kawan, Rakyat jelata dan sikaya"

Mari kita direfleksikan tatanan kebijakan dalam sebuah keluarga yang sering dilakukan para orang tua. "Pemeberian jajan, uang saku, biaya pendidikan dan kebutuhan anak-anak tentu harus berkeadilan sesuai kebutuhan dan tingkatan, nilainya tidaklah sama satu sama lain, tetapi disesuaikan dengan kondisi," ujar Rafli dipetik dari perbincangan singkat di warung kopi di Tapaktuan, Sabtu (17/5/2025).

Maksudnya, tutur Rafli, keadilan itu disesuaikan kebutuhan dan keperluan si anak, murid SD tentu tidak memerlukan anggaran terlalu besar dibandingkan pelajar SMP, siswa SMA dan Mahasiswa.

"Iya, anggaran atau dana yang diberikan kepada anak-anak harus berkeadilan agar tidak dicap pilih kasih dan terkesan anak tiri dan anak kandung, namun tidak lari dari kondisi keuangan dan konsep-konsep arif bijaksana," imbuhnya.

Contohnya, urai Rafli, pembiayaan untuk pelajar SMP disamakan alokasinya dengan kebutuhan mahasiswa, maka hal tersebut sangat tidak bijaksana, atau tidak berkeadilan. Sama halnya jika luas perkebuanan 1.000 hektare tetapi menyaluran bibit lebih banyak kepada luas kebun 300 hektar.

Orang tua dan pemimpin yang baik memiliki dan menganut leadership strong (kemampuan mempengaruhi dan pengatur, memotivasi orang lain untuk kepentingan yang lebih bijak), bukan bersikap mendengar bisikan kemudian terjadi pro dan kontra hanya karena secuil kepentingan, misi atau cari muka.

Narasi ini ditulis Radaksi INFORakyat.co semata-semata sebagai pengingat dan solusi, sehingga semua kita sebagai umat sadar dan berhati-hati dalam mengambil kebijakan, bukan walanca-walance setelah berbuat timbul konflik lalu anak-anak, lingkungan dan masyarakat mencap pilih kasih.

Terimakasih, semoga menjadi catatan baik agar semua kita tidak kehilangan tongkat dimata keluarga, kelompok dan masyarakat. Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menjustice atau mengkritisi pihak manapun, tetapi wejangan dalam menjalani kehidupan bagi siapapun. ||

Tags terkait :

Editor : Redaksi

Kanal : Daerah