"Sejak beberapa bulan terakhir, harga hasil tani di Aceh Selatan terpuruk dan terjadi fluktuasi, nasib petani panas dalam dan tidak penentu," ujar Muhammad Kausar.
TAPAKTUAN, INFORakyat.co - Nasib petani di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh goyang akibat harga sejumlah komuditi unggulan di wilayah itu naik turun.
Naik turun harga hasil tani sangat berdampak kepada perekonomian masyarakat, faktornya, mayoritas penghidupan masyarakat bertumpu dari pertanian dan nelayan, selebihnya berprofesi di sektor lain, diantaranya buruh, dagang dan aparatur negara (ASN), kata salah seorang warga setempat Muhammad Kausar.
"Jika harga hasil pertanian anjlok, maka dampaknya sangat luas dirasakan oleh masyarakat, kaitannya berhubungan langsung dengan perekonomian dan perputaran keuangan," ujar Muhammad Kausar kepada INFORakyat.co di Tapaktuan, Sabtu (5/7/2025).
Laporan diterima dari petani, ungkap Kausar, harga minyak Pala sebagai produksi unggulan kembali mengalami penurunan dibandingkan harga sebelumnya. Untuk lebih akurat tanyakan saja sama pedagang.
Padagang hasil bumi di Kecamatan Sawang, Safrijal alias Afin yang ditemui, mengaku kalau harga pala terus terpuruk akibat mengalami penurunan. Harga minyak pala saat ini tergilas dari harga normalnya.
"Bulan kemarin dibandrol penampung di harga Rp 770.000 sampai Rp 800.000 per kg, sekarang menjadi Rp 680.000 sampai Rp 700.000 per kg. Secara otomatis, harga pembelian biji pala mentah dan kering juga terpuruk," terang Afin.
Kata dia, harga tampung atau pembelian biji pala dari petani disesuaikan dengan pasaran minyak pala. Pala mentah dibeli Rp 18.000 sampai Rp 20.000 per kilogram. Kalau biji kering beraneka Rp45.000-Rp 50.000 per kilogram.
Kemudian biji pala Hitam atau jenis (A) seharga Rp 48.000 - Rp 50.000 per kg. Fuli atau bunga bersih kering ditampung Rp 180.000 sampai Rp 200.000 per kilogram. "Kondisi harga bisa terjadi perubahan mendadak, naik mapun turun karena sangat tergantung nilai jual minyak," imbuhnya.
Selain komposisi harga minyak dan biji pala, Safrijal turut menginformasikan situasi harga minyak nilam (atsiri) dan biji pinang kering.
"Bulan kemarin, harga minyak nilam masih ditampung toke (distributor) lokal Rp 1 juta. Terkini turun tipis menjadi Rp 880.000 sampai Rp 900.000 per kg. Dapat diasumsikan terjadi penurunan tipis," ulasnya.
Sementara itu, bijiinang kering masih dalam koridor stabil. "Kita tampung dari petani seharga Rp 15.000 sampai Rp 16.000 per kg. Harga ini masih sama dengan harga jual beli sebelumnya yang bertengger tidak jauh beda, yakni Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per kg," pungkasnya. ||
Naik turun harga hasil tani sangat berdampak kepada perekonomian masyarakat, faktornya, mayoritas penghidupan masyarakat bertumpu dari pertanian dan nelayan, selebihnya berprofesi di sektor lain, diantaranya buruh, dagang dan aparatur negara (ASN), kata salah seorang warga setempat Muhammad Kausar.
"Jika harga hasil pertanian anjlok, maka dampaknya sangat luas dirasakan oleh masyarakat, kaitannya berhubungan langsung dengan perekonomian dan perputaran keuangan," ujar Muhammad Kausar kepada INFORakyat.co di Tapaktuan, Sabtu (5/7/2025).
Laporan diterima dari petani, ungkap Kausar, harga minyak Pala sebagai produksi unggulan kembali mengalami penurunan dibandingkan harga sebelumnya. Untuk lebih akurat tanyakan saja sama pedagang.
Padagang hasil bumi di Kecamatan Sawang, Safrijal alias Afin yang ditemui, mengaku kalau harga pala terus terpuruk akibat mengalami penurunan. Harga minyak pala saat ini tergilas dari harga normalnya.
"Bulan kemarin dibandrol penampung di harga Rp 770.000 sampai Rp 800.000 per kg, sekarang menjadi Rp 680.000 sampai Rp 700.000 per kg. Secara otomatis, harga pembelian biji pala mentah dan kering juga terpuruk," terang Afin.
Kata dia, harga tampung atau pembelian biji pala dari petani disesuaikan dengan pasaran minyak pala. Pala mentah dibeli Rp 18.000 sampai Rp 20.000 per kilogram. Kalau biji kering beraneka Rp45.000-Rp 50.000 per kilogram.
Kemudian biji pala Hitam atau jenis (A) seharga Rp 48.000 - Rp 50.000 per kg. Fuli atau bunga bersih kering ditampung Rp 180.000 sampai Rp 200.000 per kilogram. "Kondisi harga bisa terjadi perubahan mendadak, naik mapun turun karena sangat tergantung nilai jual minyak," imbuhnya.
Selain komposisi harga minyak dan biji pala, Safrijal turut menginformasikan situasi harga minyak nilam (atsiri) dan biji pinang kering.
"Bulan kemarin, harga minyak nilam masih ditampung toke (distributor) lokal Rp 1 juta. Terkini turun tipis menjadi Rp 880.000 sampai Rp 900.000 per kg. Dapat diasumsikan terjadi penurunan tipis," ulasnya.
Sementara itu, bijiinang kering masih dalam koridor stabil. "Kita tampung dari petani seharga Rp 15.000 sampai Rp 16.000 per kg. Harga ini masih sama dengan harga jual beli sebelumnya yang bertengger tidak jauh beda, yakni Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per kg," pungkasnya. ||





