"Sangat tidak elok dipandang mata, gapura sebagai pintu masuk kota Tapaktuan sudah ketinggalan zaman dan dimakan usia pandangan pertama yang tidak terurus serta digerogoti belukar"
TAPAKTUAN, INFORakyat.co - Pintu gerbang Kota Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh berupa gapura bertulis ucapan Selamat Datang di Kota Tapaktuan, terletak di kawadan Gunung Cut, Kasik Putih Kecamatan samadua, sudah sangat ketinggalan zaman dan memprihatinkan, kondisinya tidak terawat serta dibalut semak belukar dan digerogoti karatan.
Pandangan pertama memasuki areal ibu kota Kabupaten Aceh Selatan berjuluk kota legendaris ini sangat tidak sebanding dengan gagahnya panorama alam dan megahnya objek wisata.
Informasi dihimpun, gapura tersebut merupakan peninggalan masa kepemimpinan bupati Ir. H. Teuku Machsalmina Ali, MM dan Drs H Harpana Hasan, era puluhan tahun yang lalu. Sayangnya, sudah beberapa berganti tampuk pimpinan, namun kondisi Gapura belum kunjung direnovasi atau dibangun lebih indah.
Pantauan di lokasi, konstruksi gapura bematerial besi stentlist itu, kelihatannya sudah tidak seharum nama Tapaktuan, lebih menjengkelkan lagi kondisinya diterbalut belukar, terkelupas dan dilumati karatan.
"Sudah sejak lama kondisi pintu gerbang ini tidak terawat, tulisannya juga banyak copot. Dikhawatirkan jika ambruk akan menelan korban jiwa akibat dibiarkan menjadi potret kusam bagi pendatang dan pandangan menjengkelkan," celetuk Mustafa saat bertemu di lokasi, Jumat (20/6/2025).
Kepada https://inforakyat.co, Mustafa mengatakan, geliat perbaikan dan perubahan wajah gapura diyakini akan terjadi di bawah kepemimpinan bupati H.Mirwan MS dan H. Baital Mukadis. Masyarakat sudah sangat kecewa melihat kondisi gapura ini. Toh, kerjaan kecil tetapi mengundang perhatian publik disia-siakan.
Sebenarnya, gapura ini cerminan dan marwah kota Tapaktuan bagi pengunjung atau setiap pendatang yang melintas. Apa boleh buat, sejak lama terlupakan dan nyaris jadi besi ronsokan.
"Sebaiknya, demi keindahan dan menjadi ikon batas kota, keberadaan gapura dibangun di lokasi yang lebih strategis, kalau bisa di puncak Gunung Cut (gunong ribee). Mohon perhatian pak bupati Mirwan untuk menata kembali seiring mewujudkan Aceh Selatan maju dan produktif," timpal Herawati mengakhiri. ||




