Ratapan Cinta antara Duka, Kebahagiaan dan Kasta

author
Redaksi

22 Mar 2025 16:45 WIB

Ratapan Cinta antara Duka, Kebahagiaan dan Kasta
ILUSTRASI: Kisah Cinta
“Debaran jantungku berdegup kencang saat tatapan mata beradu pandang, dia adalah wanita primadona yang ku dambakan 17 tahun lalu. Dia mencuri hati, jiwa dan perasaanku tapi takdir asmara berkata lain karena materi jadi belenggu”

UDARA KOTA BANDA ACEH sedikit pengap siang menjelang sore hari ke 20 Ramadhan 1446 hijriah 2025 masehi, hanya lalu lalang kendaraan melintasi persimpangan jalan di depan Masjid Raya Baiturrahman, sambil menunggu istri dan anak-anak berbelanja, sejenak meneguk sensasi alam di antara ramainya pengunjung di halaman masjid termegah di Bumi berjuluk Serambi Mekkah.

Suara Azan berkumandang menyeru muslim menunaikan shalat Ashar, hari itu merupakan yang kedua kali berada di masjid Baiturrahman sepulang dari Jakarta, kota tempat aku bertugas di salah satu kantor Kementerian Republik Indonesia. Ku ayunkan langkah menuju lokasi berwudhu di areal ruang bawah tanah, kemudian menunaikan ibadah berjamaah.

Usai shalat, kembali duduk di emperan halaman masjid sisi samping, tiba-tiba datang seorang wanita berusia setengah baya menawarkan kuliner khas Aceh untuk makanan berbuka puasa. Awalnya tidak kuhiraukan, tetapi suara lembut itu menyapa berulang kali.

"Bang, timpannya, ada lemang dan es cendol. Enak untuk berbuka puasa," ujar sang wanita mendekat seraya memandang wajahku. Seperti magnet, aku menoleh mendengar suara yang seperti tidak asing dan pernah bergelut manja semasa aku masih muda.

Mata kami beradu pandang, meskipun samar-samar aku tetap mengenal wajah wanita yang pernah bersemayam dalam hati dan membuat aku harus meninggalkan kota Banda Aceh 17 tahun lalu(2008-red), akibat cinta tidak mendapat persetujuan keluarga, akhirnya bejana penderitaan membara.

Tahi lalat di bagian bibir atas sebelah kanan, ciri istimewa yang sulit kulupakan, walaupun kini aku sudah punya istri dan tiga anak. Butiran cinta dan asmara yang kujalani bersama dia terlalu romantis dan ditebus dengan duka lara.

"Widia panggilku", suaraku bergetar tanpa sengaja berbicara lepas. Tiada jawaban maupun senyuman dari wajah dibalik hijab itu. Dia terlihat terkejut, lalu berpaling dan hendak pergi. Spontan aku bangkit, sambil menahan barang dagangan yang dibawa.

"Tunggu Widia, aku adalah Muhammad Rais, kekasihmu dahulu. Izinkan aku berbincang sejenak jika kamu tidak keberatan," ujarku sedikit memaksa.

 Widia kembali menatapku, air matanya mulai membasahi pipi, bibir mungil yang mulai keriput bergetar menahan ratapan sendu, tubuhnya yang dulu berisi, kini terlihat kurus dan lusuh.

"Apa kabar, bagaimana keadaan dan sudah berapa orang anakmu, kamu baik-baik saja kan??" ungkapku mengajak Widia bicara. Ia hanya diam menatap ambang sore, pahatan wajahnya menggambarkan banyak kisah, kelelahan dan kepedihan yang dilalui.

"Selama kamu tiada bersamaku, hidupku hancur, rumah tanggaku berantakan, saya sudah lima tahun pisah dengan Sofyan, pria pilihan orang tuaku. Hidupku kini luntang lantung," jawab Widia terisak.

Ia kembali melanjutkan cerita. "Setelah hubungan kita tidak direstui orang tua dan lebih memilih Sofyan seorang kontraktor menjadi pendamping hidupku, mulai sejak itu aku bagaikan kehilangan arah. Sofyan sebagai penggantimu, berubah total dari apa yang diharapkan dan dibangga-banggakan orang tuaku sebelumnya," imbuhnya.

Egoisme Sofyan yang semula bergelimpangan harta membuatku tidak boleh mendaftar jadi calon PNS, hari-harinya sibuk dengan proyek, bahkan sering keluar kota dengan alasan ikut tender.

"Aku sering ditinggalkan saat hamil, aku menderita dan terkubur dalam kehampaan. Sering ku sampaikan kepada orang tuaku, namun mereka tetap pada pendirian mereka tanpa belajar untuk sadar," imbuh Widia.

Ketika aku melahirkan anak pertama, Sofyan tidak di rumah, orang tuaku meminta aku harus sabar demi masa depan. Suatu hari, Sofyan meminta surat-surat rumah orang tuaku untuk dijadikan agunan kredit bank. Katanya, butuh modal pekerjaan proyek. Ayah dan ibu pasrah dan menyerahkan beberapa sertifikat.

"Sepuluh tahun kemudian rumah dan harta benda orang tuaku disita pihak bank karena angsuran menunggak. Ayah jatuh sakit dan meninggal dunia di rumah kontrakan. Tidak lama berselang, ibu terserang penyakit jantung dan menghadap sang khalik. Sejak itu pula Sofyan kuketahui sudah kawin lagi di provinsi Lampung dan jarang pulang," tutur Widia.

Sekarang, aku harus banting tulang untuk menghidupi dua anak. "Salah satu solusi, membuat kue dan dijual sendiri. Saya sudah tidak memiliki apa-apa, kuliah hanya tinggal nama akibat tidak dimanfaatkan semasa muda. Aku jatuh, aku hancur Rais, tidak tau kemana mengadu, apalagi di Aceh kami sebagai pendatang," paparnya.

Mendengar perjalanan hidup Widia, aku bagaikan terhipnotis dan tenggelam dalam kesedihan. "Tidak kubayangkan jika wanita yang pernah kucintai itu harus menanggung penderitaan lantaran asmara tidak mendapat persetujuan orang tua. Bukan salahmu Widia, tetapi kita tidak berjodoh dan takdir Berkehendak lain," bisikku dalam hati.

Tiba-tiba handphone ku berdering, istriku Hartaty menelpon menanyakan dimana posisiku. Ku jawab saja dengan jujur, "abang sedang bersama Widia, wanita yang pernah abang ceritakan padamu. Tanpa sengaja kami bertemu di samping masjid Raya. Herannya, Hartaty berkenan dan meminta ia ikut bertemu dengan Widia," ucapku kepada sang istri memberitahu.

Aku, Widia dan Hartaty bersama anak-anak duduk barengan bercerita panjang lebar. Kuceritaka apa adanya kepada Widia yang turut didengar Hartaty.

"17 tahun yang lalu, aku kuliah sambil jadi buruh bangunan untuk membiayai keperluan pendidikan. Saya dan Widia sama-sama kuliah hanya beda angkatan. Ditempat inilah pertama kali kami bertemu. Saat itu Widia memiliki sepeda motor sebagai fasilitas transportasi kuliah, saya jalan kaki, karena jarak kos dengan kampus tidak terlalu jauh," uraiku.

Sejak cinta kami mulai berlabuh, orang tua Widia tidak merestui karena faktor perbedaan ekonomi. Meskipun berkuliah, di mata orangtua Widia saya tetap buruh bangunan dan tidak  memiliki masa depan. Saya pernah diusir dari rumah mereka walaupun Widia meminta  kepada orang tuanya jangan bersikap kasar.

"Kala itu, orangtua Sofyan adalah sahabat dekat dan mitra kerja orangtua Widia. Mereka punya segala-galanya. Widia dijodohkan berumah tangga dengan Sofyan tanpa memperdulikan hati dan perasaan kami yang telah bertahun menjalin asmara. Widia tidak kuasa, bahkan nyaris bunuh diri. Saya menyemangatinya dan berharap tidak menghianati kedua orang tuanya," cetus Muhammad Rais.

Merasa tersisih dan tidak dihargai serta Widia melangsungkan pernikahan, hati saya bagaikan tersayat-sayat, berhari-hari tidak bernafsu makan, potret kami berdua menjadi saksi bisu betapa hancurnya cinta berpisah karena pandangan materialis orang tua. Teman-teman selalu memberi spirit agar tidak jatuh terpuruk dan patah hati.

"Tamat kuliah, saya menumpang mobil truk merantau ke Jakarta. Sedih dan pedih saya lalui untuk berjuang bangkit. Berawal ajakan teman untuk bantu-bantu di kantor pemerintahan, akhirnya saya mendaftar ikut seleksi CPNS, Alhamdulillah lulus. Perpisahan dengan Widia membuat saya tidak tertarik lagi kepada wanita dan lebih memilih karir," papar Muhammad Rais.

Selesai kuliah Pasca Sarjana (S-2), Hartaty menjadi wanita kedua yang menghampiri hari-hariku. "Ternyata Hartaty menyukai dan mencintaiku sepenuhnya. Walaupun Hartaty anak seorang pengusaha di Jakarta, tetapi dia dan keluarganya menerima saya apa adanya. Kami pun menikah dan merajut rumah tangga.  

Muhammad Rais dan Hartaty meminta maaf kepada Widia dan menyarankan untuk ikut mereka ke Jakarta. "Ke Jakarta saja Widia, nanti kerja di perusahaan saya. Jangan takut, mari berjuang, saya akan membantumu. Kalau mas Rais, dia kerja di instansi pemerintah, saya mengelola perusahan orang tua," pinta Hartaty menawarkan jasa.

Aku hanya diam mengikuti perbincangan Hartaty dan Widia dan tidak pernah terbesit niat untuk kembali kepangkuan Wadia. Kini Hartaty adalah permata hidupku, ibu dari anak-anakku. Bahtera rumah tangga kami bahagia.

Sebelum pergi, Hartaty memberikan kartu nama kepada Widia, "ini alamat dan nomor kontak saya, sewaktu-waktu hubungi saya kalau butuh bantuan. Kami balik ke Jakarta setelah Idul Fitri," ucap Hartaty seraya mengeluarkan secarik cek bertulis angka Rp 50 juta disumbungkan untuk Widia.

Angin sore membelai langkah gontai, pertemuan sejenak mengingatkan kenangan lama yang rapuh. Muhammad Rais bersama Hartaty dan anak-anaknya berlalu meninggalkan ruang hampa, dimana Widia berdiri kaku, secuil kebahagiaan dinikmati lewat pertemuan yang beratap batas.

"Doaku selalu untukmu bang Rais bersama keluarga, istrimu baik hati dan peduli sosial, dititipkan modal untuk aku hidup dan berjuang nasib, tidak akan kusia-siakan. Ampunilah dosa-dosa orang tuaku, kesuksesanmu adalah keberkahan," gumamnya menarik napas panjang. ||

Cerita ini hanya Fiksi belaka, mohon maaf jika terdapat kesamaan nama dan tempat.

Tags terkait :

Editor : Redaksi

Kanal : Komunitas