“Bermaksud meluruskan pemberitaan agar berimbang dan profesional, malah oknum wartawan mendapat bentakan dari balik telepon genggam dari pejabat teras Aceh Tenggara”
KUTACANE, INFORakyat.co- Pemberitaan tentang program titipan penumpang gelap pada anggaran dana desa (DD) 2025 di Aceh Tenggara viral dan menjadi perbincangan hangat di kalangan publik dan aktivis, pasalnya diduga pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara merasa risih hingga melontarkan bahasa tak layak kepada salah seorang wartawan media online.
Supardi merupakan wartawan media online Modusaceh.co, saat ingin mengkonfirmasi terkait program titipan apakah bupati Aceh Tenggara mengetahui? Namun Jawaban yang diterima terkesan seperti bukan mitra kerja tetapi nada membentak.
"Terlontar bahasa "Pekak kadang Kao" menggunakan bahasa Alas, atau di terjemahkan "bodoh kadang kau", ujar Supardi kepada INFORakyat.co, usai kejadian, Kamis, 26 Juni 2025 lalu.
Kepada Kawan-kawan media, Supardi mengaku tidak nyaman atas perlakuan itu serta tidak menghargai profesi jurnalis oleh pejabat publik yang nota benenya pemimpin rakyat.
Menurut wartawan Modusaceh.co, ia hanya ingin meluruskan isi pemberitaan agar berimbang, dikarenakan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kute (DPMK) belum memberi respon terkait pemberitaan tersebut.
"Maka saya mempertanyakan, apakah bupati mengetahui program titipan oknum tertentu pada kegiatan Dana Desa? Sontak dengan nada tinggi Bupati Agara Salim Fahri melontar kan bahasa tak enak dan terkesan riih dengan kalimat "Pekak kadang kao" dengan nada berulang," papar Supardi.
Terkait indikasi peristiwa itu, Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Aceh Tenggara, Adrian menyayangkan tindakan seorang pimpinan nomor 1 setingkat kabupaten dengan melontarkan bahasa yang tidak menghargai profesi jurnalistik ketika menggali informasi agar akurat, sesuai fakta dan berimbang.
"Selaku Aktivis di lingkup akademis, saya menyayangkan tindakan seorang pimpinan daerah selevel bupati, bahasa yang tidak menghargai profesi wartawan dalam melaksanakan tugas mulia sebagai kontrol sosial publik, seharusnya masih banyak narasi lain lebih santun dan bersahabat," ucap Adrian.
Baca Juga:
Bantuan Pascabanjir Aceh Singkil Tersendat, Warga Geram Jadup Tertahan dan Rehab Rumah Belum Jalan
Sementara bupati Aceh Tenggara M. H. Salim Fahri saat dikonfirmasi melalui via WhatsApp (WA) sejak hari Kamis sampai Sabtu,26-28 Juni 2025 masih belum memberi tanggapan atau menjawab duduk persoalan sebenarnya.
Hingga berita ini di tayangkan, INFORakyat.co belum mendapat informasi terkait isu ini dari sosok publik figur yang tidak lain adalah bupati Aceh Tenggara. ||




