“Hadih maja orang terdahulu, paleuh raja dengo haba beuranggapat, paleuh rakyat di meupat merang gaho, paleuh guree di meuranto rata sagoe," kata Apa Tampok.
TAPAKTUAN | INFORakyat.co – Mengutip kata-kata bijak orang-orang tempo dulu atau lebih dikenal dengan sebutan Hadih maja, kiranya menjadi tuntunan dalam melangkah, berpikir dan mengambil sebuah keputusan objektif, berintegritas, berkualitas dan profesional.
Sambil duduk bersila lutut di atas tumpukan jerami kering di areal persawahan yang nyaris gagal panen di lahan tadah hujan, sebut saja namanya Apa Tampok, mulai mengumbar kata-kata menarik dalam bahasa Aceh yang sederhana tetapi memiliki makna cukup dalam.
"Paleuh raja dengo haba beuranggapat, paleuh rakyat di meupat merang gaho, dan paleuh guree di hantam rata sagoe. (Bahasa Indonesianya, "Tolol raja mendengar kabar (informasi) dimana-mana, tolol masyarakat mengumpat (mencaci maki) sembarangan, dan tolol guru (pembimbing) bercerita setiap sudut)," papar Apa Tampok, Jumat sore, 26 Juni 2026.
Sebenarnya, ia berkalam lagi, sebenarnya Aceh ini benar-benar sudah tertata sangat baik dari endatu. "Adat bak Poteu Meureuhóm, hukóm bak Syiah Kuala Kanun bak Put rot Phang, reusam bak Laksamana"
Sudahnya saat ini, kadang-kadang sejumlah oknum sudah bertukar pneumat (pegangan). Maka integritas, profesionalisme dan kualitas terkikis waktu.
"Terlebih hadirnya oknum pecundang sebagai pembisik tanpa bijaksana, hasil mufakat dan musyawarah pun bisa diubah, antara ujung dengan pangkal. Sehingga muncullah berbagai multi tafsir," ucap Apa Tampok seolah-olah memahami akademisi (intelektual).
Menurut Apa Tampok,pada hal sagat simple jika mau berpegang teguh pada pesan dan amanah pendahulu. Jika pandai meniti buih selamat badan ke seberang.
"Nyang mat adat yang mubudhoe sampo dan bijaksana, arah tujuan cit ka meuho bek sampo arang habis besi binasa. Maknanya, yang mengendalikan adat memang orang yang memahami dan bijaksana, arah dan tujuan sudah dimengerti jangan sampai arang habis besi binasa"
Hadih maja ini bukan untuk menyindir siapapun, tetapi sudah diwariskan nenek moyang terdahulu sebagai petuah dalam menjalani kehidupan.
"Barang kali di zaman modern ini mulai redup diterpa berbagai kepentingan, hingga terlupa pada sandaran yang kokoh. Pahami dan maknai lah hadih maja yang ditinggalkan endatu kita. Ini ibarat lampu dalam kegelapan, dan tongkat dalam melangkah," tutupnya menasehati generasi penerus bangsa. ||




