Jeritan Hati dan Mimpi Generasi Gayo Lues, Sekolah Hancur Pakaian Hilang, Hantaman Banjir Menyisa luka

author
Almujawadin

20 Dec 2025 12:56 WIB

Jeritan Hati dan Mimpi Generasi Gayo Lues, Sekolah Hancur Pakaian Hilang, Hantaman Banjir Menyisa luka
Sambil menangis, Sakila, salah seorang anak yang belajar di posko pengungsian Blang Kejeren, Gayo Lues, menyampaikan harapan kepada pemerintah, Sabtu 20 Desember 2025. INFORakyat.co/Almujawadin.
“Proses belajar mengajar generasi muda Kabupaten Gayo Lues bersimpuh di Posko Pengungsian, semangat belajar tetap terpacu diantara jeritan hati menggapai mimpi panjang, Gedung sekolah hancur, pakaian dan harta benda hilang ditelan bencana”

GAYO LUES | inforakyat.co – Puluhan bahkan ratusan anak kini masih berada di Posko pengungsian di Desa Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, meskipun terkatung-katung namun bersemangat belajar tetap hadir dan nikmati apa adanya.

Potret aktivitas belajar di barak dan tenda pengungsian terlihat nyata, harapan untuk belajar kelompok dan bertatap muka dengan guru di ruangan sekolah permanen terpatri dan melekat di dada.

Pantauan INFORakyat.co, dalam kondisi apapun, wajah-wajah getir itu tetap terlihat ceria sebagai hunian pengungsian, berbalut pakaian seadanya mereka tetap belajar walaupun tidak seindah sebelum bencana.

"Kami belajar, tetapi tidak seindah dan setertib sebelum bencana, kami tidak ingin gagal dan tertunda, meskipun mendambakan ruang belajar yang permanen. Penantian ini bagaikan khayalan yang belum kunjung kepastian, entah sampai kapan barak pengungsian jadi tempat naungan," ungkap salah seorang siswa, Sakila, Sabtu, 20 Desember 2025.

Ia menyebutkan, di Posko pengungsian di penuhi para korban terdampak, hiruk pikuk dan suasana keramaian seakan-akan bukan penghalang untuk meneruskan pendidikan yang kini tertunda.

"Kami belajar mengaji Al quran, dan menghafal materi Pelajaran, sekolah sudah rusak dan hanyut, rumah-rumah hancur berantakan, harta benda dan pakaian lenyap diterjang banjir banjir, hati kami menjerit dan meninggal luka panjang, tetapi hasrat belajar tetap bersemayam," imbuhnya.

Dari sekian banyak anak-anak, Sakila salah seorang yang terancam tidak dapat bersekolah, alasannya sesuai logika dan fakta, rumah sekolah tempat dia belajar sudah hanyut, harta benda bahkan pakaian dan perlengkapan sekolah sudah tidak ada.

Masyarakat dan generasi penerus bangsa di Gayo Lues, tidak banyak berharap, jika bukan bantuan dari pemerintah secepatnya, mungkinkah mendapatkan pertolongan dari Malaikat untuk menghadirkan gedung sekolah dan perlengkapan yang dibutuhkan??

Sumbang kedengarannya, tetapi itulah jawaban dari rintihan bagi anak-akan yang menempati Posko pengingsian. "Kami hanya butuh pemerintah membangun sekolah, memberi fasilitas untuk kami belajar, pakaian dan perlengkapan sekolah. Orangtua kami sudah rapuh, terkulai dihempas banjir bandang," sergahnya lagi.

Pendidikan dan fasilitas sekolah adalah masa depan bagi generasi bangsa, akibat dari banjir tidak sedikit usaha dan aktivitas warga hancur, rusak dan punah. Masyarakat kesulitan untuk bangkit, butuh waktu dan pundi keuangan.

"Solusinya, pemerintah harus bergerak cepat, membangun Gedung, sarana dan prasarana pendidikan, menyalurkan beasiswa dan membantu permodalan untuk pembangunan pondasi ekonomi dari nol. Jika tidak, maka korban banjir dan anak-anak akan rapuh," tegasnya.

Suara hati yang disampaikan ini, sambung Sakila, merupakan jeritan dan aspirasi generasi muda, termasuk semua warga yang terdampak banjir bandang.

"Jangan terlalu berteori, bangkitakan semangat dan tumbuhkan masa depan generasi, hanya pemerintah yang memiliki kekuatan dan kemampuan, atas izin dan Kehendak Yang Maha Kuasa," celetuknya dibarengi derai air mata. ||

Tags terkait :