Lelaki gagah itu Dibanjiri Doa Istri sebagai Benteng kekuatan, pintu berkah menuju kebahagiaan

author
Sudirman Hamid

1 Jam yang Lalu

Lelaki gagah itu Dibanjiri Doa Istri sebagai Benteng kekuatan, pintu berkah menuju kebahagiaan
ILUSTRASI: Keluarga bahagia belum tentu lahir dari kemewahan dan kekayaan. Foto: Net/Istimewa.
“Takdir mempertemukan dua anak manusia yang sama-sama hidup serba kekurangan dalam ikatan ijab kabul. Pergelutan dan perjuangan hidup yang dilalui penuh kisah, duka dan nestapa. Namun kesetiaan tidak pernah luntur meskipun makan berlauk sambal terasi, senyuman bahagia senantiasa terukir. Tahun 2026, usia perkawinan Siagam dan Sinonong genap 40 tahun”

PERADABAN dan kehidupan di Aceh jauh berbeda dengan fenomena di kota-kota besar, bertani, jadi nelayan bahkan buruh kasar sekalipun tetap meneguk rasa kebahagiaan, suara-suara pengajian di masjid menentram jiwa dan raga, lingkungan sehat dilingkari adat budaya serta rasa solidaritas masyarakat masih tinggi.

Berbagi rasa, kepedulian dan bakti sosial masih sangat kental. Bagi usia muda menghormati pemuka adat dan pemuka agama. Saling mengasihi satu sama lain, gotong royong menjadikan hidup di masyarakat bersilaturahmi.

Pusaran nasib sangat tergantung keteguhan hati, kesabaran, keikhlasan serta berusaha sekeras seraya memohon petunjuk Ilahi Rabbi dalam menjalani pusaran kehidupan. Tidak terlalu sulit dan butuh pengetahuan mentereng, asalkan memiliki kemauan dan keinginan dibarengi doa, cita-cita akan terkabul dan menjadi kenyataaan.

Terbetiklah kisah perjalanan hidup sebuah keluarga sederhana, pasangan suami istri (Pasutri) Siagam dan Sinong, warga sebuah Gampong di Kabupaten Aceh Selatan, provinsi Aceh.

Pulang bertarung hidup sebagai buruh pemetik Bunga Cengkeh di Kepulauan Simeulue, Sinabang pada Tahun 1984, Siagam bertemu Sinonong di sebuah rumah makan di seputaran Pelabuhan Kota Tapaktuan, Aceh Selatan.

Mengawali perkenalan, kedua insan ini saling mengutarakan asal usul dan latar belakang masing-masing. Ternyata keduanya nyaris bernasib sama, tidak lulus sekolah tinggi dan bukan pula terlahir dari keluarga terpandang (kaya harta benda).

Benih asmara mulai tersemai, hingga tahun 1986 Siagam dan Sionong bertaut ke jenjang pernikahan, dan mulai memaknai hidup baru penuh lika-liku. Bertahan dalam lingkungan keluarga mertua bukan hal yang bisa dibanggakan, hakikat hidup mengais rezeki hasil jerih payah sendiri lebih hakiki.

Tepatnya setelah lahir anak kedua, Siagam dan Sinonong memilih mendirikan gubuk kecil di atas tanah pinjaman milik warga. Mulai tahun 1900, Siagam selalu membayangi nasibnya yang bodoh, tidak mau kuliah dan jauh tertinggal dari orang-orang lain di desanya.

"Disuatu ketika, hasil tani diserang hama produksi anjlok. Saat itu anak-anak saya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya dengan istri sering tidak makan, asalkan sibuah hati tidak lapar. Kami tidak pernah mengeluh atas kondisi yang menimpa keluarga," kisah Siagam yang kini sudah berusia renta.

Ia menambahkan, "bahkan karena kain sarung yang layak pakai untuk sholat hanya selesai, kami terpaksa giliran sholat, setelah itu baru sama-sama berzikir dan menadah doa dan memohon ampunan ke hadhirat Allah SWT. Kami dan istri berjanji tetap setia sehidup semati. Demi sang anak, ia relakan kepergianku," katanya.

Dengan memohon restu sang istri tercinta, Siagam meminta untuk diizinkan merantau ke Jakarta. "Saya ingin merubah nasib, jika kami bodoh, hendaknya anak-anak kami harus jadi orang pintar. Saya berjanji kepada istri untuk tetap tawakal dan mengutamakan kesetiaan, begitu juga sebaliknya," bebernya.

Tiba di Jakarta Siagam diterima bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Selama di Jakarta, banyak godaan yang menghantui Siagam, termasuk rayuan gombal wanita. Pantas kiranya, karena Siagam memiliki postur tubuh atletis, gagah dan terlihat perkasa maupun berpenampilan sederhana.

Tahun ke tahun berganti tahun. Pola hidup, keteguhan hati dan kesetiaan yang terpatri tetap terjaga. Begitu menerima gaji langsung dikirim kepada sang istri melalui wesel pos.

"Komunikasi dengan sang istri hanya dicurahkan melalui butiran tintas di lembaran secarik kertas yang dikirim via pos. Sebaliknya, Sinonong juga membalas surat sang suami, dengan untaian narasi dipenuhi doa dan kerinduan. Maklum dek, era kami belum secanggih sekarang. Surat menjadi penghapus rindu dan meredam lara," imbuhnya.

Sekian lama di perantauan, ia tidak pernah meninggal sholat. Pemilik perusahaan menaruh rasa sayang, bahkan ingin menjodohkan dengan putrinya yang telah lama menjanda. Namun, selalu saja ada cara Siagam menolak. Terakhir, Siagam memilih pulang kampung untuk menghindari pengkhianatan kepada istri dan anak-anak.

"Saya tidak mau berada dipersimpangan jalan. Walaupun saya akan senang tetapi anak-anak akan lebih menderita. Janji saya saat akad nikah bukan hanya didengar oleh manusia, tetapi dicatat Malaikat dan Allah. Cita-cita saya untuk mendidik anak juga telah tersurat di kalam Allah dan Malaikat. Prinsip itu didorong doa tlus dari sang isteri," ungkapnya.

Tiba di kampung halaman, ternyata kedua anaknya tumbuh besar dan sudah menduduki sekolah SMP. Bermodal sedikit uang yang dia bawa pulang, tanah warga yang dipinjamkan dibeli menjadi miliknya dan dibangun sebuah rumah kecil. Sementara istrinya Nonong setiap hari membuat kue untuk di letakan di warung-warung warga.

Ternyata, setiap malam sunyi dan sepi, selesai sholat dan mengaji Al quran, istrinya selalu memanjat doa, semoga Siagam sehat selalu, mudah rezeki dan tetap teguh hati menghadapi cobaan. Seiring itu, ia juga menuntun kedua anaknya untuk sunguh-sungguh belajar.

"Kalian harus pintar, ayah sedang di rantau orang. Kita sama-sama berdoa agar ayah mudah rezeki, tetap dalam iman, dan cepat pulang kembali. Jika kita berkumpul bersama, walaupun lapar dan serba kekurangan tetapi pancaran kebahagiaan tetap menyinari," petuah Nonong kepada sang anak.

Pertarungan hidup dimulai dengan lembaran baru, sudah memiliki rumah, anak lanjut sekolah tingkat SMA dan yang tertua mulai kuliah disalah Universitas ternama dengan bantuan beasiswa.

Nasib dan perputaran kehidupan tidak ada yang tau, di usia senja (tua) Siagam dan Sinonong tampak gagah, rukun dan tersulam kebahagiaan. Rasa syukur dan ketaqwaan terus menebal, seiring kasta hidupnya mulai mewah.

"Sebelum kami pindah dari rumah mertua, ipar-ipar kami sering menghina, dengan kata-kata hanya menumpang hidup di ketiak orang tua. Lebih santer lagi, ketika saya merantau. Umpatan dan hinaan kepada istri saya menjadi-jadi. Rupanya sebelum menikah dengan saya Sinonong ingin dinikahkan dengan anak saudagar yang tidak lama masuk penjara gara-gara narkoba," ulasnya.

Di Penghujung kisahnya, Siagam mengaku jika anak sulungnya yang laki-laki saat ini sudah selesai Strata tiga (S-3) luar negeri dan menjadi dosen. Sedang anak kedua seorang wanita berhasil jadi dokter spesialis kandungan.

"Setelah anak-anak mendapat kerja, kami diminta pindah ke kota agar tidak jauh dari mereka berdua. Makanya kami disini, dirumah dibeli anak-anak dan menantu. Iya, semua ini berkat doa istri yang menjadi benteng kekuatan, ternyata kesetiaan, kegigihan dan ketabahan serta kerja keras tidak menghianati hasil," tandasnya sambil naik mobil pajero Sport yang dikendalikan sopir pribadi.

Usai memberi komentar, pasangan Lansia itu menghilang ditelan padatnya volume kendaraan di jalan raya pusat kota. Historisnya menghidangkan pengalaman berharga bagi generasi muda, bahkan bisa jadi petunjuk jalan bahwa doa seorang istri dan keluarga akan menjadi benteng dalam mengharungi kehidupan. ||

Catatan: identitas dan alamat sumber disamarkan. Naskah ini merupakan imajinasi, disajikan untuk sosialisasi.

Tags terkait :