“Bukan sekedar penderitaan yang dihadapi, berjalan kaki dari Rukoh Darussalam ke masjid Raya Banda Aceh menjadi hal biasa, berhari-hari tidak makan ketika upah belum dibayar dan uang tidak dimiliki bukan alasan tidak bersekolah. Menghadiri pesta perkawinan bermodal amplop kosong tidak aneh demi mengganjal perut dari lapar bagi lelaki tangguh”
INFORAkyat.co | KISAH INSPIRATIF menggugah kisah perjalanan dan perjuangan kehidupan manusia, bahkan dapat menjadi inspiratif bagi generasi muda dalam bertarung hidup. Kebahagiaan dan kesuksesan itu sering muncul dan dinikmati setelah meneguk duka lara, kegetiran dan penderitaan yang menyakitkan. Lelaki sejati dan tangguh akan berhasil setelah melewati cabaan dan rintangan.
Tiada penderitaan yang hakiki, kecuali gagal meraih cita-cita. Kadang kala kegagal sering menjadi modal untuk bangkit dan bertahan untuk menempa kesuksesan, ia menjelma sebagai ujian dan cobaan.
Dikutip dari kisah hidup dua sahabat, dapat diprediksi bahwa orang kaya juga tidak dijamin bisa sukses di dapur pendidikan dan hidup bahagia. Sebaliknya Si miskin, buruk muka serta usia tua bukan penghalang dalam merajut cita-cita mengukir masa depan gemilang.
Salah serang pejabat di lingkungan Kabupaten Aceh Selatan mengisahkan untaian masa lalu yang digeluti penuh duri, banting tulang untuk biaya pendidikan, tinggal di gubuk, berjalan kaki hingga menghadiri resepsi pernikahan warga bermodal amplop kosong demi mengganjal perut lapar, walaupun tamu tanpa diundang.
Sebut saja Mister Agam (nama samaran-red), kini menduduki jabatan strategis di birokrasi pemerintahan di lingkungan Pemkab Aceh Selatan. Mengawali perjalanan hidupnya, pada Tahun 1984 ia memulai merantau ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG), ajaran tahun 1984/1985.
Masa itu, kondisi daerah dan kehidupan masyarakat Aceh Selatan serba kekurangan, pekerjaan sebagai petani dan nelayan masih di kategori musim paceklik.
"Bukan sekedar penderitaan yang dihadapi, berjalan kaki dari Rukoh Darussalam ke masjid Raya Banda Aceh menjadi hal biasa, berhari-hari tidak makan ketika upah belum dibayar dan uang tidak dimiliki bukan alasan tidak bersekolah. Menghadiri pesta perkawinan bermodal amplop kosong tidak aneh demi mengganjal perut dari lapar," papar Agam, Kamis, 11 Juni 2026.
Memenuhi biaya hidup dan kebutuhan sekolah, ia bekerja di percetakan Batu Bata di kawasan Rukoh, Darussalam, Banda Aceh. Saat itu keadaan Rukoh tidak seramai sekarang, banyak dapur batu bata beroperasi untuk material bangunan. Ia memanfaat waktu pulang sekolah untuk pekerja.
Baca Juga:
Polres Aceh Selatan tegaskan, 6 WNA Tiongkok Kantongi Izin Resmi aktivitas Survei Investasi Tambang
"Benar-benar perih, lelah dan berkubang lumpur yang digilas Kerbau untuk, mencetak batu bata. Kemudian diangkat dan diatur tunggu untuk dibakar. Hawa panas menyengat keringat mengucur sekujur tubuh. Namun penghasil yang diterima hanya Rp.75," bebernya.
Untuk bertahan hidup sementara, ia bersama Udin salah seorang warga Aceh Utara, terpaksa harus tinggal di Pondok komplek cetak batu bata sembari bekerja beberapa bulan.
Baca Juga:
Kawal Keamanan Lingkungan Warga, URC Satreskrim Polres Aceh Tenggara Gencar gelar Patroli
"Saya menilai bekerja di dapur batu bata sangat menguras tenaga dan berdampak pada proses belajar mengajar. Saya dan Udin memilih minggat dan berusaha menjadi tukang jahit sepatu di seputaran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, sepulang dari sekolah," katanya sambil menetes air mata.
Tidak seperti dibayangkan, kadang-kadang seharian bahkan berhari-hari tidak mendapat langganan, secara otomatis tidak mendapat masukan. Gigit jari dan penuh perasaan hampa serta tidak makan. Sakitnya lagi, dari Masjid Baiturrahman pulang ke Rukoh terpaksa berjalan kaki.
"Dalam perjalanan pulang berjalan kaki ke Rukoh Darussalam, saya dan Udin sengaja mencari rumah-rumah yang sedang hajatan (kenduri). Begitu bertemu langsung masuk dan makan sepuas-puasnya. Lalu memberi atau menyalami pemilik rumah dengan amplop kosong yang memang sudah dipersiapkan," beber Agam.
Tidak perlu malu, mengganjal perut lapar menghadiri pesta (resepsi) warga menjadi kebiasaan yang dilakoni untuk mengganjal perut lapar. Daripada mencuri lebih baik berbuat seperti itu. Tidak jarang, dalam sehari pernah dua hingga tiga rumah disinggahi. Besoknya kembali menahan lapar karena upah tidak didapati.
"Kami berdua tidak sanggup sewa kos, kami tinggal di tanah orang dengan membuat pondok dari bambu dan beratap rumbia. Malam hari menyalakan lampu terbuat dari botol bersumbu kapas dan bahan bakar minyak tanah. Kondisi ini kami jalani beberapa tahun," ulasnya lagi.
Pada tahun 1987, dirinya berubah posisi menjadi buruh bangunan. "Menajadi buruh bangunan lebih enak, bisa hari libur atau cepat datang, makan siang ditanggung pengelola proyek. Separuh hari mendapat gaji Rp.500 sampai Rp.750, ditambah kopi dan makan siang," cetus Agam.
Demi pendidikan dan mendapat sajian makan malam, pihaknya rela tinggal di Bedeng (pondok bangunan) bersama buruh-buruh bangunan. Karena tidak bekerja penuh waktu, ia bersedia menjadi tukang masak malam.
"Iya seperti itulah hari-hari yang kami lalui hingga tamat SPG. Berpindah-pindah lokasi dan aneka pekerjaan bangunan infrastruktur tetap dikerjakan, tanpa mengharap kiriman dari orang tua yang memang tidak mampu membiaya sekolah," tambah Mister Agam.
Alhamdulillah, pada tahun 1988, ia selesai menamatkan sekolah SPG. "Mulai saat itulah saya dengan Udin berpisah dan pulang kampung masing-masing. Wajah lusuh, hitam tersengat terik mentari dan postur kurus menjadikan saya seperti orang tidak mengenyam pendidikan. Saya tidak pedulikan apa kata mereka, asalkan dunia memahami saya sudah lulus SPG," ucapnya.
Tepat pada November 1989, Agam mengikuti seleksi penerimaan guru di Kabupaten Aceh Selatan. Ia berhasil lulus dan menjadi CPNS dengan gaji pokok Rp.49.000 per bulan.
Terbawa informasi menggiurkan karena PNS kecil, Agam pernah melarikan diri dan minggat tugas selama hampir dua tahun hijriyah ke negara jiran Malaysia.
"Kala itu PNS tidak sedisiplin sekarang, tanpa absensi elektronik. Tempat tugas juga jauh-jauh. Aceh Selatan masih bergabung dengan Aceh Singkil, Subulussalam dan Blangpidie. Gaji saya diambil pihak sekolah," ungkapnya.
Menurut Agam, bekerja di Malaysia memang besar penghasilan, juga besar biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan. Era itu, setahun berada di Malaysia sudah bisa diusulkan Identitas Pintar (IC) atau MyKad alias KTP Malaysia.
"Pada tahun 1990, saya sudah mengantongi IC warna Merah Malaysia. Pas pulang kembali ke tanah air (Indonesia) harus menggunakan paspor dan Visa kunjungan berlibur. Setelah itu saya mulai menetap dan kembali mencoba jadi guru di salah satu SD," timbal Agam.
Namun, karena kurang sesuai tempat tugas dan gaji masih merasa kecil, ia kembali mengulah dan hendak melarikan diri dari tugas. Berulang kali mau kembali Malaysia, bahkan menuju berjuang hidup Jakarta.
Namun doa dan harapan orang tua mengganjal niat untuk minggat dari kampung halaman dan tugas mulia. Berulang kali berusaha namun tetap gagal.
"Pernah sudah sampai ke Pekan Baru, tetapi tanpa sadar malah kembali ke Medan, dan langsung pulang ke kampung. Tiba, di kampung baru sadar, koq malah balik lagi??. Bahkan tujuan ke bandara, malah ke terminal bus untuk pulang lagi," bebernya.
Sadar hal itu, ia kembali berbakti menjadi guru, tak lari gunung dikejar semua sudah tersurat. Sungguh tidak ada yang menyangka kalau akhirnya gaji guru ditambah sertifikasi menjadi harapan besar dan menjanjikan masa depan gemilang, serta telah menyelesaikan kuliah Strata-Satu.
"Mejelang masa purna bakti, ia mendapat amanah menahkodai salah satu pejabat strategis. Ini adalah penghargaan, amanah dan anugerah yang datang dari Allah, setelah merasakan pahit getir kehidupan. Saya tidak bangga, hanya rasa syukur dan keikhlasan yang bisa ditumpahkan hingga bersimpuh di Tanah Suci Mekkah," pungkasnya. ||














