Hidup Butuh Cara, Bukan Cerita dan Halusinasi, Berjuanglah Sebelum usia Lanjut

author
Sudirman Hamid

1 Jam yang Lalu

Hidup Butuh Cara, Bukan Cerita dan Halusinasi, Berjuanglah Sebelum usia Lanjut
ILUSTRASI: Keluarga sakinah, mawaddah warahmah. Sumber KUMPARAN/Net.
“Malam hampir larut, suamiku masih termenung memikirkan rembulan muncul di antara belahan mendung yang bergantungan. Khayalan demi khayalan bertemakan memecah keheningan. Menurutku, ia masih merangkai mimpi mengejar proses kehidupan yang belum pasti,” kata Intan dalam batinnya yang diam, sambil menidurkan anaknya yang masih bocah.

INTAN, wanita muda paruh bayamenatap langit-langit kamar, hatinya menerawang dan bergemuruh jauh seputar khazanah kehidupan yang dilalui bersama sang suami tercintanya dan anak-anak kesayangannya yang masih kecil, serta belum menduduki bangku kuliah.

Buaian malam baginya adalah waktu senggang untuk membolak balikkan alam pikiran seiring perjalanan waktu perkawinan menuju senja. Baginya kebahagiaan bukan harus dilapisi emas, intan dan berlian, tetapi cukup dengan kesederhanaan dan mampu mendidik anak-anak lebih baik dari histories yang dijalani.

Di usianya hampir 40 an, ia mulai berpikir tentang masa depan sebelum usia lanjut, tenaga dan pikiran mulai rapuh, rambut memutih dan kulit keriput.

Perjuangan demi perjuangan ia lalui penuh cerita, duka lara bahkan nestafa, agar bisa memetik dan meneguk kebahagian. Apa pun dia kerjakan yang penting halal, Intan ikhlas, berjiwa besar dan sabar menjalani kehidupan walaupun harus peras keringat.

Suatu malam, Intan tidak bisa terlena, pikiran kalut dan bercumbu dengan berbagai ilusi. Sementara suaminya Bang Toyib masih duduk manis sambil menyulut rokok yang masih tersisa dari beli dua bungkusan siang tadi.

Dengan sangat perasaan dan menghargai, Intan mendekat dan mulai melantunkan kalimat-kalimat bernada nasehat. Bukan karena suaminya yang malas, tetapi mengajak berpikir jernih agar tidak terus merindukan bulan di kegelapan malam.

"Bang, malam hampir larut, seperti usia kita yang terus bertambah. Mari sama-sama kita sonsong perjuangan kehidupan dengan cara, bukan mengumbar cerita. Saatnya kita berbicara fakta. Saya ingin anak-anak kita menjadi putra-putri yang sukses," ungkap Intan sembari menyuguhkan segelas air putih.

Hidup ini tambah Intah, lirih nyaris tak terdengar, menjaga supaya pembicaraannya dengan suami tidak membuat anak-anak terjaga dari tidurnya, dan ikut menikmati dialog masa depan yang selama ini ia pendam.

"kita tidak perlu berkhayal terlalu tinggi bang, hidup ini butuh cara, pengetahuan, pengalaman dan kejujuran serta rasa setia, ditambah kerja keras yang berarti, bukan bicara dan halusinasi. Mulai saat ini kita coba menabung untuk hari tua. Siapa tahu mampu membangun rumah kecil idaman, tidak lagi harus naik turun rumah berstatus sewaan," ajak Intan lembut.

Sedikit bermanja, Intan meneruskan kalimatnya. "Usia muda itu payah dicari, tetapi masa tua itu datang sendiri, dan yang pasti kematian itu akan tiba. Mari kita lihat ke depan, menata kehidupan yang lebih baik. Singkirkan egoisme, kita pasti bisa dan mampu berkiprah. Bukankah semangkin hari, kebutuhan kita kian banyak?? Saatnya melangkah selagi kita masih kuat," sergah Intan lagi.

Apa yang dilafalkan Intan, bagaikan tamparan keras, membangunkan spirit bang Toyib untuk sadar dari narasi-narasi dan khayalan yang bergentayangan selama ini.

Sehari-hari Bang Toyib dikenal sebagai pria pandai bergaul, banyak cerita yang dilukiskan walaupun sekedar retorika. Sesungguhnya, ia lebih rapuh dari apa yang dilihat secara kasat mata. Jiwanya menangis, meskipun mengumbar cerita keindahan.

Bermodal nasehat sang istri, bang Toyib menjadikan cemeti. Sikapnya yang sedikit nakal berubah drastis. Ia terbangun dari mimpi-mimpi tak pasti, bangkit dari halusinasi untuk menguak perubahan.

Sebenarnya, bang Toyib bukan orang awam, tetapi memiliki segudang pengalaman, pandai bergaul dan selalu bersikap rendah diri. Ia tegar menghadapi kesulitan walaupun bukan dibidani dari wadah akademisi.

Lima tahun berlalu sejak bisikan malam menggema dibenaknya. Kini keluarga Intan dan bang Toyib mulai merasakan hangatnya makna kehidupan.

Patra-putrinya mulai dewasa dan sudah menduduki bangku perguruan tinggi, dihiasi sebuah rumah sederhana tempat ia bernaung dan beribadah, serta menjadi mahligai terindah saat melepas lelah.

Ternyata sekeras apapun prinsip dan sikap lelaki, akan lunak di diasuh dengan penuh perasaan dan saling menghargai. Titah sang istri sebelum tidur malam lima tahun silam menjadi lentera perubahan bagi Bang Toyib, ia tidak lagi hanyut dalam hayalan, setiap langkah adalah perhitungan dan menjanjikan.

Perawakan yang sederhana selama ini menjadi sosok dikagumi, bang Toyib bersama Intan sukses membangun bahtera rumah tangga menuju gerbang kebahagiaan.

Dari perihnya perjuangan kehidupan, akan muncul seberkas sinar. Kelak anak-anak bang Toyib akan lahir menjadi sarjana. Usia senjanya menjadi pengabdian dan pembinaan keluarga yang harmonis.

Kini bang Toyib menjadi diri sendiri yang kokoh tanpa dihantui perasaan keserakahan, dan mengganggu orang lain. Intan, adalah istri terbaik dalam suka dan duka. Intan adalah piala dada tempat menuang segala-galanya dalam menghirup udara kehidupan.

"Alhamdulillah ya Allah, semoga kami sehat selalu, berkah dan menjadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah. Kami berlindung dan memanjat doa pada Mu ya Allah," untaian doa Intan yang ditadahkan setiap selesai sholat. ||

Catatan: Tulisan ini hanya fiksi belaka, sebagai pesan kehidupan, Redaksi.

Tags terkait :

Editor : Sudirman Hamid

Kanal : News, Daerah, Komunitas, Religius, Peristiwa, Sosialisasi, SERBA-SERBI