“Konflik yang terjadi hari ini bukan semata persoalan personal, tetapi sudah menyentuh aspek kepentingan wilayah dan keseimbangan kekuasaan, kami sarankan supaya Ketua DPRA kedepan berasal dari pantai Barat-Selatan,” kata Koordinator Wilayah Mualem Center, Syamsurijal, S.Pd.
BANDA ACEH | INFORakyat.co - Koordinator Wilayah Mualem Center menilai bahwa dinamika yang terjadi di tubuh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), memasuki fase yang memerlukan kebijaksanaan dan langkah strategis untuk meredam konflik kepentingan yang semakin menyeruak ke ruang publik.
Gempuran pemberitaan, situasi politik di DPRA memanas seiring munculnya ketidakpuasan sejumlah anggota Dewan terhadap kepemimpinan Zulfadli (Abang Samalanga).
Informasi dipetik, dalam rapat paripurna LKPJ Gubernur Aceh Tahun Anggaran 2025, muncul permintaan agar Muzakir Manaf bertemu langsung dengan anggota dewan tanpa kehadiran unsur pimpinan (ketua-red).
Jika hal itu benar adanya, maka diduga sebuah sinyal kuat adanya krisis kepercayaan internal, serta hembusan isu memanasnya konflik perebutan tampuk pimpinan DPRA itu harus dari wilayah tertentu.
Di tengah kondisi tersebut, langkah Muzakir Manaf yang dikabarkan telah menyiapkan dua nama calon pengganti pimpinan DPRA dinilai sebagai upaya konsolidasi untuk menciptakan stabilitas politik di Aceh di bawah bendera Partai Aceh (PA).
Dua figur yang mencuat, yakni Azhari M. Nur dan Saiful Bahri (Pon Yahya), digadang-gadangkan merupakan hasil dari proses konsultasi lintas wilayah dan pertimbangan matang di internal Partai Aceh.
Syamsurijal menegaskan bahwa penyelesaian konflik tidak cukup hanya melalui pergantian figur, melainkan harus memperhatikan keseimbangan representasi wilayah sebagai bagian dari rekonsiliasi politik yang lebih luas dan menyentuh keterwakilan kedaerahan.
"Konflik yang terjadi hari ini bukan semata persoalan personal, tetapi sudah menyentuh aspek kepentingan wilayah dan keseimbangan kekuasaan. Karena itu, kami menyarankan agar Ketua DPRA ke depan dipertimbangkan berasal dari wilayah Barat Selatan (Barsela) Aceh," ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat, 10 April 2026.
Menurut Syamsurijal yang sapaan akrabnya Naga Selatan, selama ini distribusi posisi strategis di Aceh masih belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan wilayah. Padahal, keterwakilan yang adil dapat menjadi kunci untuk meredam potensi konflik dan memperkuat solidaritas politik internal.
Sosok yang kental disebut Naga Selatan itu, juga menilai bahwa pendekatan berbasis wilayah dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga stabilitas politik internal Partai Aceh dan DPRA, sekaligus memperkuat legitimasi kepemimpinan di mata publik.
Baca Juga:
Idul Adha 1447 H, Pemkab Bener Meriah Sembelih 28 ekor Hewan Qurban, total tembus 1000 ekor
"Kita butuh sosok yang tidak hanya mampu memimpin secara administratif, tetapi juga menjadi simbol pemersatu. Barsela memiliki potensi kader yang layak dan representatif untuk itu," tambahnya.
Ia berharap, keputusan yang akan diambil oleh Muzakir Manaf nantinya benar-benar mempertimbangkan aspek keadilan politik, rekonsiliasi internal, serta kepentingan jangka panjang pembangunan Aceh.
"Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperbaiki arah politik Aceh ke depan. Jangan sampai konflik elite terus berulang hanya karena ketimpangan kepentingan yang tidak diselesaikan secara bijak," tutup Naga Selatan.
Baca Juga:
Ada Anak Pejabat dan Selebgram Pekanbaru, 8 Pria dan 5 Gadis remaja Terjaring Razia Narkoba
Sang Koordinator wilayah mualem center pusat menambahkan, "kami menyampaikan saran, demi kemajuan dan kesejahteraan Aceh, semoga menjadi pertimbangan terbaik pimpinan," tutupnya. ||





