“Diduga sarat penyelewengan. Iya, bagaimana mau menang, kalau juri juga memiliki peserta didik yang ikut lomba. Seolah-olah sudah ‘golden ticket’ untuk menang,” ujar peserta.
BENER MERIAH | INFORakyat.CO– Pelaksanaan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) tahun 2026 di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh yang diselenggarakan oleh Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) setempat Dinas Pendidikan Aceh, menuai sorotan dari peserta.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 30 April 2026, di SMA Negeri 1 Bukit ini menjadi perbincangan, khususnya pada cabang lomba tari kreasi.
Keluhan mencuat melalui unggahan di media sosial (Medsos) yang menilai proses penilaian juri tidak profesional dan kurang transparan dan diduga ada intervensi.
Baca Juga:
Peringati Hari Buruh KSPSI Aceh Tenggara, May Day 2026 Tuntut Kesejahteraan dan Perlindungan Pekerja
Dihimpun dari suara hati peserta di Medsos, sejumlah peserta dari berbagai SMA di Bener Meriah mengungkapkan kekecewaan terhadap hasil lomba yang dianggap tidak mencerminkan usaha serta kualitas karya yang telah dipersiapkan secara maksimal oleh masing-masing peserta.
Mereka (anak didik-red) menilai ajang yang seharusnya menjadi wadah pengembangan bakat justru berpotensi merusak mental peserta didik apabila tidak dikelola secara adil dan objektif.
Salah seorang peserta koreografer yang turut berpartisipasi dalam lomba tersebut mengungkapkan dugaan adanya konflik kepentingan dalam proses penilaian.
"Diduga sarat penyelewengan. Iya, bagaimana mau menang, kalau juri juga memiliki peserta didik yang ikut lomba. Seolah-olah sudah "golden ticket" untuk menang," ujar peserta dikutip, Jumat, 01 Mei 2026.
Peserta juga menegaskan bahwa sebuah karya tari tidak hanya sekedar gerakan, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan filosofi, riset kostum, hingga latihan intensif.
"Setiap karya tari bukan sekadar gerakan, tetapi mengandung filosofi, riset kostum, hingga proses latihan yang panjang. Namun hasil penilaian terasa tidak adil," demikian salah satu pernyataan yang beredar.
Selain itu, peserta menyoroti pentingnya profesionalisme dewan juri. Mereka berharap hanya pihak yang benar-benar kompeten, independen, dan objektif yang dilibatkan dalam proses penilaian.
Transparansi standar penilaian juga dinilai perlu diperjelas guna menghindari kesan subjektivitas atau praktik kolusi, "siapa kenal siapa dan mempertahankan siapa".
Kritik juga diarahkan pada sistem penilaian yang dianggap "abu-abu" dan berpotensi menghambat perkembangan seni di daerah. Jika kondisi ini terus terjadi, dikhawatirkan dapat menurunkan semangat berkarya generasi muda.
"Ajang seni seharusnya menjadi ruang apresiasi tertinggi, bukan justru penuh tanda tanya. Kami tidak butuh pemenang instan, tetapi keadilan yang nyata," tulis oknum dalam pernyataan tersebut.
Baca Juga:
Serangan Jet Tua Iran Permalukan Washington, Pertahanan AS di Kuwait bikin Camp Buehring Rusak Parah
Hingga viral di lahan aplikasi medsos, dan ditarik bedia ini menjadi pemberitaan, belum ada pihak yang memberi penjelasan tentang dugaan juri tidak profesional. ||












