“Geliat perjuangan lahirnya Provinsi Aceh Barat Selatan terus membahama setelah sempat membeku dibentengi Moratorium. Saat ini bangkit kembali dengan semangat lebih tinggi, para tokoh, sesepuh, akademisi, politisi, tokoh muda bahkan mantan jenderal sudah merapatkan barisan”
MEULABOH | INFORakyat.co - Perjuangan otonomi baru yang mencakup wilayah kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Selatan, dan Simeulue untuk pemekaran provinsi Aceh Barat Selatan (ABAS) kian memuncak dibicarakan, baik melalui pertemuan khusus, koordinasi internal bahkan komunikasi melalui Grup WhatsApp (WAG) santer berselancar.
Setelah diselenggarakan berbagai pertemuan dan pendekatan awal, pada tanggal 17 Juni 2026 para tokoh dan elite Barat Selatan dari 6 kabupaten kembali rembuk pakat guna menata langkah perjuangan, serta merevisi jajaran Komite Pelaksana Pembentukan Provinsi Aceh Barat Selatan (KP3 ABAS) membidani aspirasi masyarakat di gedung UTU Meulaboh.
Secara aklamasi, H. Kamaruddin, SE terpilih sebagai Ketua KP3 ABAS, Drs. Meurah Ali (Sekretaris), dan Usman Razali dipercayakan selaku Bendahara. Sosok ini bukanlah orang baru, tetapi sudah malang melintang memahami pergelutan perjuangan ABAS dari waktu ke waktu.
Dikutip dari WAG Provinsi ABAS, Selasa, 30 Juni 2026, kekinian sejumlah kabupaten yang nota benenya dipetakan akan menjadi bagian dari wilayah akan dimekarkan, mulai membentuk KP3 ABAS di tingkat kabupaten.
Dirunut dari perjalanan perjuangan, gagasan dan pergerakan pemekaran Provinsi ABAS sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun.
Secara formal, pergerakan organisasi komite ini tercatat aktif bergerak secara masif sejak tahun 2003–2008. Saat itu tongkat perjuangan dinakhodai almarhum Kolonel (Purn). H. Tjut Agam, dan didampingi H. Zuriat Suparjo di posisi sekretaris.
Terbaru, tongkat estafet dipercayakan kepada H. Kamaruddin, SE dan kawan-kawan. Dilihat dari pergerakan fase terbaru yang tumbuh secara apik, KP3 ABAS dapat dinilai semangkin kokoh dengan munculnya para sesepuh, tokoh, akademisi, pemuda, politis bahkan mantan jenderal (purnawirawan) menyatu dan menyamakan persepsi bahwa pemekaran provinsi ABAS adalah solusi tepat.
Disimak dari perkembangan koordinasi dan komunikasi, sejumlah tokoh kombatan GAM juga sudah merapatkan barisan, namun sejauh ini nama-nama para pentolan itu belum diperoleh data akurat tentang kebenarannya.
Sementara itu, dari garda akar rumput terus memberi dukungan seraya berdoa, semoga Provinsi ABAS dapat terwujud dan akan menjadi provinsi emas (makmur-red) seperti daerah-daerah di Indonesia.
Mengutip komentar mantan Anggota DPRA selama dua periode 2009-2019, yang juga mantan Sekretaris KP3 ABAS, H. Zuriat Suparjo, bahwa perjalanan perjuangan yang dirintis KP3 ABAS dan dukungan semua pihak masuk ke Presiden, Mendagri dan sempat diparipurnakan Anggota DPR RI dari 10 fraksi pada 2008 sebagai langkah inisiatif.
Kala itu, persiapan dan dokumen hampir 100 persen. Namun penetapan sebagai Provinsi persiapan tertunda akibat dikeluarkan Moratorium. Estafet ini harus benar-benar diperjuangkan dengan gigih, tentunya membutuhkan energi dan pemikiran serta perbaikan administrasi.
Baca Juga:
Dari 5.059 Calon Diverifikasi, Nagan Raya Siapkan 270 Siswa Ikuti Program Sekolah Rakyat 2026/2027
"Histories perjuangan itu merupakan kado terindah untuk dilanjutkan oleh generasi penerus. Yakinlah, berangkat dari kekompakan, bersatu padu dan saling bekerjasama, Provinsi ABAS yang lahir sebagai solusi tepat untuk memajukan pantai Barat Selatan," ucap Zuriat Suparjo yang dihubungi, Senin lalu, 22 Juni 2026.
Di Usianya 72 tahun, Zuriat Suparjo masih getol menyalakan semangat tinggi, lebih baik terlambat daripada gagal berjuang. Generasi muda harus lebih kuat dari era sebelumnya.
"Saatnya bersatu, saling memahami dan menghargai, jika bukan kita tentunya tidak akan muncul orang lain. Jikapun ABAS lahir, wilayah enam kabupaten masih tetap dalam koridor Serambi Mekkah dan senantiasa utuh bernaung di Negara Kesatuan Republik Indonesia," imbuh Zuriat. ||





