“Masyarakat Beutong tidak alergi investasi, mungkin tujuannya mulia, tetapi kami melihat langkahnya terlalu terburu buru dalam mengambil kebijakan. Kita ingin iklim sehat, masyarakat dan daerah mendapat manfaat,"Kata Samsuardi.
NAGAN RAYA | INFORakyat.co - Di tengah gocangan polemik rencana izin pertambangan di Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh, pemuda setempat menilai langkah bupati Dr. TR. Keumangan terlalu tergesa gesa dalam mengambil keputusan terkait IUP Pertambangan.
"Masyarakat Beutong tidak alergi investasi, mungkin tujuannya mulia, tetapi kami melihat langkahnya terlalu terburu buru dalam mengambil kebijakan. Kita ingin iklim sehat, masyarakat dan daerah mendapat manfaat,"kata salah seorang pemuda Beutong Ateuh Banggalang, Samsuardi melalui siaran Persnya Kamis, 11 Juni 2026.
Samsuardi menjelaskan, masyarakat Beutong Ateuh Banggalang sedang berduka, luka bencana banjir belum betul-betul pulih, tiba-tibadi kejutkan dengan IUP pertambangan di kawasan itu.
Baca Juga:
Buka Musrenbang 2026, Bupati TRK Ajak Perusahaan Dukung Penyelesaian Pembangunan Masjid Giok
"Coba lihat kami hari ini, kami khawatir bencana alam yang begitu dahsyat akan dirasakan anak cucu kami nantinya. Jadi wajar jika hari ini masyarakat Beutong Ateuh muncul kekhawatiran dengan kehadiran tambang. Bukan maksudnya alergi dengan investasi," imbuh Samsuardi.
Menurut Samsuardi tidak semua daerah itu cocok untuk investasi pertambangan, pertama potensi, kemudian struktur tanah.
Baca Juga:
Langgar Qanun Syariat Islam, Seorang wanita Terpidana Zina ditunda Cambuk di Gayo Lues Karena Hamil
"Izin dan perkenankan saya bertanya, apakah investasi di Beutong itu harus berbentuk pertambangan. Mungkin tanpa kami sampaikan bapak bupati lebih tau, potensi alam Beutong Ateuh sangat luar biasa, kesuburan tanah bahkan tidak tertandingi dengan daerah lain," tambah Samsuardi.
Selama ini, produksi padi, Kopi, Kemiri, dan sebagainya tumbuh subur di kawasan Beutong Ateuh Banggalang, kenapa investasi itu tidak di kembangkan dalam konteks itu, kenapa harus pertambangan?," tanyanya.
Tak hanya itu, Samsuardi juga mempertanyakan pernyataan Bupati baru-baru ini, yang menyampaikan bahwa jangan salahkan dirinya jika Nagan Raya tidak sama seperti Brunei sebagaimana dijanjikan saat kampanye pada perhelatan Pilkada.
"Sekarang bapak bupatisudah mengatakan jika janjinya tidak terealisasi jangan salahkan dirinya. Apa hubungannya dengan masyarakat hari ini, masalah pro dan kontra dalam hal investasi itu hal biasadan akan mencair pada waktunya. Jangan jadikan masyarakat sebagai penyebab janji itu tidak terpenuhi," celetuk Samsuardi.
Selaku warga Beutong Ateuh Banggalang, barangkali tidak terlalu berlebihan jika diperjelas sebetulnya itu janji siapa? . Bukankah janji itu disampaikan pada saat belum menduduki dan terpilih menjadi bupati??
Ia berharap agar Pemerintah Nagan Raya tidak menjadikan masyarakat Beutong Ateuh sebagai alasan pemerintah tidak berhasil terealisasi janji janjinya saat kampanye.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Beutong Ateuh sudah menolak pertambangan di daerah tersebut sejak lama, bukan saja kali ini.
"Kami berharap agar Bupati Nagan Raya, dalam hal ini Bapak TRK mengerti terkait sikap masyarakat Beutong Ateuh Banggalang. Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang sudah menganggap bapak (Bupati-red) seperti Ayah, dan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat," sergah Samsuardi lagi.
Oleh karenanya jangan sampai gara-gara investasi hubungan itu pelan-pelan akan redup dan pudar. "Kami berharap agar bapak tidak salah dalam mengambil kebijakan terhadap rencana Investasi di Beutong Ateuh. Sekali lagi, sebagai seorang pemuda, saya tidak anti investasi hanya sekedar mengingatkan," tutupnya.
Hingga berita ini dilansir ke ruang publik, media ini belum mendapat konfirmasi dari pemerintah daerah dan pejabat berkompeten memberi keterangan. ||














