“Internet gangguan, paket nggak terpakai, operasional elektronik dan peralatan mesin menggunakan energi listrik lumpuh, ekonomi masyarakat terpuruk. Keluhan demi keluhan terus berselancar dengan suara nyaris tidak terdengar”
TAPAKTUAN | inforakyat.co – Pasca bencana alam yang menimpa sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Aceh, berdampak serius pada siklus perekonomi, masyarakat morak marit dan sangat berpotensi menelan kerugian akibat energi listrik padam berkepanjangan.
Informasi dihimpun, sejak banjir dan longsor menerjang wilayah Aceh, Rabu, 26 November 2025, energi listrik sebagai kebutuhan vital masyarakat mengalami gangguan, sampai hari ini, Senin 15 Desember 2025 belum normal. Kondisi ini mengakibatkan kehidupan masyarakat ngos-ngosan.
Warga Tapaktuan, Dahdewi menyebutkan, kondisi masyarakat benar-benar terpuruk, bahkan menelan kerugian di sejumlah sektor. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh saudara-saudara yang mengalami musibah, tetapi nyaris merata di seantero Aceh, penyebab utama karena energi listrik terjadi pemadaman berkepanjangan.
Baca Juga:
Pelayanan Transportasi dan Keselamatan, Dishub Simeulue Cetuskan 5 Program Prioritas Berkelanjutan
"Biaya wifi dibayar bulanan, listrik mati wifi tidak berfungsi rekening tetap bayar. Listrik padam, biaya Beban Sambungan tetap bayar ke PT PLN. Paket internet diisi, tidak terpakai menjadi hangus (kadaluarsa), pergerakan pekerjaan yang menggunakan energi listrik terkendala, pengusaha macet. Pelayanan pemerintahan dan rumah sakit terganggu, semua itu berdampak kerugian bagi masyarakat," ungkap Dahdewi, mengaku kecewa, Senin, 15 Desember 2025.
Hal serupa juga disampaikan warga Kecamatan Sawang, Teuku Mahlil Akbar, bencana alam di Aceh benar-benar berdampak luas bagi kehidupan masyarakat luas.
"Korban terdampak bencana bukan saja kehilangan harta bencana dan nyawa, tetapi kesusahan berkepanjangan, bahwa masih ada lokasi yang terisolir. Listrik padam menambah fase kesengsaraan warga, semua serba kesulitan, mulai BBM, LPG 3 kg, harga sembako mahal, komunikasi kalang kabut," imbuhnya.
Teuku Mahlil Akbar mencontohkan, akibat listrik padam berkepanjangan di Aceh, jumlah penggunaan Generator Set (Genset) meningkat, akibatnya pasokan BBM bukan hanya dibutuhkan untuk kendaraan tetapi juga untuk menyalakan Genset sebagai alternatif sumber penerangan.
"Semestinya BBM yang dipasok digunakan untuk kendaraan, dengan listrik padam banyak warga menggunakan BBM untuk Genset. Efeknya berdampak pada harga penjualan, dari murah menjadi mahal karena berbagai alasan. Akibat listrik padam, masyarakat menanggung risiko kerugian, pihak perusahaan penyedia jasa tetap diuntungkan," papar Teuku Mahlil Akbar.
Dari berbagai fakta, pantas PT PLN (Persero) memberikan kompensasi kepada seluruh masyarakat Aceh. "Warga telah rugi, usaha macet, harga lilin mahal, kami minta pemerintah melalui Menteri ESDM menyalurkan kompensasi kepada pelanggan, ini sebuah solusi untuk meringankan beban masyarakat luas," tandas Teuku Mahlil. ||






