“Mata pena bukan belati, tetapi mampu mengiris ulu hati. Tegaklah pada kakimu, sebelum badai datang menyapu, berbuat baik pada-padai, berbuat jahat sekali jangan”
DAHINYA mengernyit, ada beban mulai merasuki ruang hampa, alam pikirannya buntu, tidur malam pun tak lena. sebagai pendekar gurun, sulit baginya menghalau gundah ketika kalam pena mengulas kalimat demi kalimat berisi makna "mengusik" dan menusuk ulu hati.
Rasa egoismenya sedikit pudar, namun bukan sadar melainkan butuh uluran ketika tinta yang tidak basah dan berwarna darah mulai mengorek pelan indikasi di kaki gunung.
Padahal selama ini ia tampak gagah, sepatu bertumit menapak indah, pakaian necis terlihat perkasa seperti tidak hinggap seekor lalat kecil pun.
Selama ini ia menilai ujung pena orang kecil seperti bayang-banyang dungu yang tidak mampu menmbus gumpalan awan dan kemuliaan jubah sang pendekar. Saat mendung mulai bergayut, nyalinya mulai kepincut kepada orang-orang yang sebelumnya diremeh temehkan.
Pengalaman sang pendekar, tidak jarang saat dihubungi oleh`makhluk-makhluk` kecil melalui alat komunikasi dianggap tidak berguna, bahkan tidak dilayani. Dia merasa sangat kuat dan tidak membutuhkan orang lain sebelum badai datang mengguncang.
Baca Juga:
Kobaran Api Berhasil Padam, Penyebab Kebakaran Sumur Minyak Ilegal di Aceh Timur Diselidiki
"Pendekar sakti, ternyata tidak sakti, ia mulai merintih pedih walaupun bukan karena dahaga untuk setetes air. Bisa saja ia tergelincir akibat kerikil kecil, atau karena beling yang menyelinap di balik sol sepatu mewahnya. Ia akan tenggelam di air yang dangkal. Dunia penuh panggung sandiwara," begitu kata-kata bijak di kutip haba Redaksi inforakyat.co.
Bocah kecil itu menghubungimu bukan untuk segelas anggur, atau lembaran merah yang diragukan menyusut penghasilanmu pendekar, bukan juga mengganggu persilatan di ruang langit tanpa bintang.
Barangkali ada hal yang dikoordinasikan atau dikonfirmasi untuk sebuah kejelasan dan keakuratan. Namun jemu pendengar memunculkan jurang jarak dalam makna sebuah kebencian sebagai penghadang silaturahmi.
Pendekar adalah orang titipan, mengemban amanah dan sosok pelayanan yang butuh integritas. Apakah irama alam akan berakhir sunyi, atau akan hadir Malaikat penolong untuk menuntun kita kearah yang lebih baik. Kalam pena tidaklah terlalu garang, namun mampu membuat "iblis" tidak nyenyak tidur malam.
Ciptakanlah keberkahan, rangkul semua orang untuk menata pagar tanaman, tumbuhkanlah rasa persaudaran tanpa dililit kebencian. Hari ini terbuai sedih, barangkali ada yang lebih sedih, saat ini kita menganggap kuat, siapa tahu ada yang lebih kuat tanpa memperlihat kekuatan. Mari introspeksi diri, salam Haba Redaksi, jabat tangan persaudaraan. ||





