“Lima belas tahun sudah berlalu, hanya do’a yang dapat kukirimkan padamu. Lima tahun sebelum kepergianmu, kita tak pernah bertemu. Lima tahun itu pula kita tak bertegur sapa, namun jauh dilubuk hatiku yang paling dalam, Ku ingin kita saling memaafkan banyak hal yang pernah kita jalani bersamaan tetap menjadi kenangan terindah bagiku. Percayalah...........Aku akan tetap menjadi sahabatmu sampai kelak aku menyusulmu Terima kasih atas segala yang pernah kau berikan kepadaku”
Refleksi 27 Tahun Aceh Singkil: Makmursyah Putra di Mataku
Oleh: Razaliardi Manik
(Penulis adalah mantan Ketua Angkatan Muda Penegak Reformasi Kepulauan Riau 1998. Saat ini berdomisili di Kampung Baru, Singkil Utara, Aceh Singkil)
TANJUNG PINANG, 20 Oktober 2011, Senin, 27 April 2026 merupakan hari jadi Kabupaten Aceh Singkil yang ke 27. Pada hari yang bersejarah bagi masyarakat Aceh Singkil.
Rasanya sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mengenang sosok seorang yang bernama Makmursyah Putra. "Dia adalah sosok pelopor berdirinya Kabupaten Aceh Singkil, sekaligus bupati pertama daerah ini"
Baca Juga:
Diantara 441 Peserta, Bupati Bener Meriah mengikuti Musrembang RKPA Tahun 2027 di Banda Aceh
Tulisan ini saya beri judul "Makmursyah Putra Dimataku", untuk mengenang sosok seseorang putra Aceh Singkil yang terbaik, meski beliau berasal dari Subulussalam. Beliau lahir 12 Oktober 1956 di Desa Penanggalan, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam, dan meninggal dunia pada usia 55 tahun ketika saya sudah hijrah yang kedua ke Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Kabar duka itu saya terima dari seorang teman di Gunung Meriah. Hari itu, seusai sholat Zuhur, saya menerima sebuah SMS yang menyebutkan telah berpulangnya ke rahmatullah seorang sahabat, seorang guru, dan sekaligus lawan politik yang pernah berseberangan.
Berita duka itu terasa menghentak. Makmursyah Putra berpulang, Sabtu 15 Oktober 2011 pukul 13 lewat, persis waktu sholat Dzuhur. Kepergiannya tentu membuat kita kehilangan seorang tokoh yang begitu berjasa bagi Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.
Baca Juga:
Mualem Fokus 10 prioritas pada Musrenbang 2027 Aceh, Berantas Kemiskinan dan Mitigasi Bencana
Kepergiannya juga merupakan duka yang cukup dalam bagi kita semua yang ada di negeri tempat kelahiran para ulama ini.
Tokoh proklamator Bung Karno dalam bukunya "Dibawah Bendera Revolisi" mengajarkan kita agar jangan sekali kali melupakan sejarah (jas merah). Jika kita bicara mengenai sejarah kemerdekaan bangsa ini, tentu kita tak bisa melupakan dua orang sosok yang bernama Bung Karno dan Bung Hatta.
Begitupun, ketika kita bicara tentang berdirinya Kabupaten Aceh Singkil, sudah pasti pula kita tidak bisa meninggalkan, apalagi mengabaikan sosok seorang bernama H. Makmursyah Putra.
Beliau adalah pelopor dan tokoh sentral dalam mengantarkan Aceh Singkil menjadi sebuah daerah yang otonom pada tahun 1999, sekaligus sebagai bupati pertama selama dua periode.
Makmursayah Putra yang saya kenal pada akhir tahun 1999 lalu adalah merupakan sosok seorang pemimpin yang ulet dan tangguh. Alur pikirannya tidak terjangkau oleh nalar sebagian besar rakyatnya.
Ia bukan saja unggul dari segi ilmu politik dan menguasai ilmu pemerintahan. Tapi ia juga pintar dan cerdas. Hal ini tentunya tidak terlepas dari pengalaman beliau sebagai seorang tokoh intelektual yang telah menduduki berbagai posisi jabatan penting baik di lingkungan pemerintahan maupun di berbagai organisasi politik dan kemasyarakatan lainnya.
Dimata saya, Makmur begitu simpati, begitu ramah dan begitu Islami. Makmur adalah seorang tokoh yang belum ada duanya di Aceh Singkil. Ia adalah seorang pelopor otonomi Aceh Singkil yang layak mendapat gelar tokoh pembangunan.
Untuk mengenang jasa-jasanya, saya mengusulkan kepada Pemerintah Aceh Singkil dibawah pimpinan H. Safriadi Oyon agar beliau dianugerahi gelar sebagai Tokoh Pembangunan Aceh Singkil.
Makmur juga merupakan sosok pemimpin yang cukup kharismatik, berwibawa dan berwawasan luas. Makmur juga dikenal sebagai orator ulung yang sulit dimiliki Aceh Singkil saat ini.
Kemampuannya sebagai seorang managerial skill bidang pemerintahan kiranya siapapun tidak dapat meragukan. Ini dapat pula dilihat dalam masa kepemimpinannya selama sepuluh tahun sukses dalam menata dan meletakkan dasar pembangunan daerah ini.
Kita juga dapat melihat bagaimana ia membangun kembali kepercayaan dirinya ketika menghadapi persoalan hukum yang menyeretnya ke pengadilan. Makmur begitu percaya diri bahwa dirinya tidak bersalah, dan ternyata pengadilan melepaskannya dari segala tuntutan hukum.
Begitu juga ketika menghadapi Pilkada Aceh Singkil tahun 2007 yang lampau. Ia begitu percaya dirinya bahwa rakyat masih mengharapkannya untuk memimpin kembali negeri ini.
Terbukti, beliau terpilih kembali untuk memimpin Aceh Singkil pada periode kedua sampai akhir hayatnya. Padahal ketika itu popularitasnya hampir mulai redup akibat tersandung kasus yang dikenal dengan nama "Kasbon Aceh Singkil" itu.
Periode pertama lima tahun kepemimpinan beliau, bisa dikatakan penuh dengan berbagai tantangan dan persoalan yang cukup pelik. Sebagai seorang Bupati, saat itu tugas yang dipikulnya cukup berat.
Berbagai hambatan dalam membangun Aceh Singkil muncul dari berbagai arah. Maklum, saat itu wilayah Aceh secara keseluruhan dalam keadaan dilanda konflik yang berkepanjangan sehingga menghantarkan Aceh ke dalam status Darurat Militer.
Meski demikian, tugas pemerintahan dan kemasyarakatan yang dipimpinnya tetap berjalan dengan baik dan kondusif, dan berhasil membangun daerah ini sejajar dengan daerah kabupaten lainnya yang telah terlebih dahulu berdiri.
Aceh Singkil sesuai kondisi ketika itu, bukan lagi sebuah peradaban yang penuh dengan kekumuhan, terbelakang dan terisolir. Aceh Singkil kala itu telah berubah dari kekumuhannya. Makmur ketika itu berharap para pemimpin selanjutnya kelak akan dapat mewujudkan Aceh Singkil menjadi sebuah daerah yang mandiri, sejahtera, makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran.
Harapan itu bukan tidak mustahil, sebab dasar-dasar pembangunan kearah itu telah diletakkan oleh seorang bernama Makmur Syahputra. Ia telah menata daerah ini sedemikian rupa, bahkan hampir di segala sektor tonggak-tonggak pembangunan menuju perubahan telah beliau dipancangkan.
Keberhasilan Makmur dapat pula dilihat dari kesuksesannya memekarkan kota Subulussalam yang sebelumnya adalah merupakan salah satu wilayah Kecamatan yang terpencil. Saat ini Subulussalam telah menjadi sebuah Pemerintahan Kota yang lebih maju dari Kabupaten Aceh Singkil.
Mengenai pembentukan Kota Subulussalam, awalnya banyak orang menganggap hal ini hanya sebuah imajinasi belaka, termasuk teman saya Almarhum H. Syafril Harahap yang biasa dipanggil Haji Apin yang ketika itu ingin memotong di tikungan dengan gagasan membentuk Kabupaten Cinendang Raya.
Alasannya, pemko tidak mungkin bisa lahir di kecamatan Simpang Kiri. Menurutnya, pemerintahan kota biasanya lahir di ibu kota kabupaten, bukan di sebuah kecamatan.
Tapi ternyata Pemko ini lahir di sebuah wilayah Kecamatan Simpang Kiri yang jaraknya 85 Km dari Ibukota kabupaten Aceh Singkil. Ketika penulis datang ke Banda Aceh, disana juga banyak teman-teman menanyakan, kenapa Pemko lahirnya bukan di Singkil selaku Ibukota Kabupaten? Saya hanya bisa menjawab, "Subulussalam memang pantas dan layak menjadi sebuah kota yang otonom".
Sungguh menakjubkan. Kabupaten Aceh Singkil yang ketika itu baru saja dimekarkan dari Kabupaten Aceh Selatan ini, dalam tempo waktu lima tahun mampu melahirkan sebuah Pemerintahan Kota. Kita patut mengacungkan jempol kepada Makmur. Acungan jempol patut pula kita berikan kepada TNI/Polri yang ketika itu telah mengamankan setiap jengkal pembangunan yang ada di daerah ini.
Enggan Berkata Tidak
Ketika pertama kali penulis mengenal Makmursyah Putra, jauh dilubuk hati yang paling dalam terbesit kekaguman terhadap dirinya. Terus Terang, penulis sudah jauh berjalan dan berlayar dari satu kota ke kota lainnya, dan dari satu pulau kepulau lainnya di negeri ini. Tapi belum pernah melihat seorang Bupati yang begitu dekat dengan rakyatnya.
Satu ciri-ciri khas yang jarang dimiliki oleh seorang pemimpin adalah senyumnya. Siapapun yang berhadapan dengannya pasti disambut dengan senyum. Bisa dikatakan Makmur orangnya murah senyum.
Disamping murah menabur senyum, Makmur juga enggan berkata "Tidak" untuk tidak tega bagi orang yang meminta, meskipun permintaan itu kadang tidak semestinya. Keengganan berkata tidak bagi Makmur mungkin sudah menjadi sifat yang melekat dalam dirinya.
Tapi sesungguhnya ini juga sekaligus merupakan kelemahannya. Sebab sikap ini menjadi pondasi banyak sikap penting lainnya dalam mengambil sebuah keputusan pemerintah selama kepemimpinannya.
Jika kita ingin berkata jujur, maka sejujurnya selama lima tahun masa kepemimpinan pertama Makmursyah Putra, banyak kebijakan dalam pemerintahannya dipengaruhi dan ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu. Katakanlah itu orang dekatnya di luar pemerintahan.
Makmur enggan berkata tidak jika ada permintaan orang-orang tertentu, apakah itu untuk sebuah jabatan atau suatu kemudahan dalam mendapatkan proyek. Akibatnya sering kali saya melihat keputusan yang ditetapkannya selalu berubah-ubah. Meski begitu, Makmur tak pernah mematok komitmen fee proyek 10% sebagai imbalannya, seperti yang terjadi di daerah lainnya.
Keengganan untuk berkata tidak terhadap sebuah permintaan diluar wewenang dan ketentuan yang dimiliki seorang pemimpin dapat melahirkan sebuah kebijakan di luar sistem dan pada akhirnya akan menetapkan keputusan hanya berdasarkan "Naluri dan perasaan" semata, bukan berdasarkan kebutuhan.
Tapi itulah sosok seorang bernama Makmursyah Putra yang alur pikirannya sulit untuk dicerna. Manusia memang tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT.
Dialog Singkat
Tercatat dalam perjalanan hidup seorang yang bernama Makmur Syahputra. Beliau pernah dituduh melakukan korupsi yang dikenal dengan nama kasus "Kasbon Aceh Singkil" tahun 2005. Namun semua tuduhan itu tidak mengandung kebenaran, sehingga pengadilan Negeri Singkil memutuskan bahwa beliau tidak bersalah.
Mengenai soal ini saya mempunyai kenangan tersendiri yang mungkin bagi orang lain tidak mempunyai arti dan makna apapun. Tapi bagi saya, meskipun itu hanya merupakan dialog singkat, tapi mempunyai kesan tersendiri dalam hidup saya.
Betapa tidak, saat itu hanya saya satu-satunya orang di luar orang-orang pemerintahan yang dipercaya mendampingi beliau dalam kasus ini sebagai penasehat spiritualnya, sekaligus sebagai penasehat politiknya secara pribadi.
Dialog singkat itu sampai saat ini masih terngiang di telinga saya. Ketika itu, beliau diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi Banda Aceh. Pemeriksaan berlangsung secara maraton selama tiga hari. Pada hari ketiga atau pada hari terakhir, seusai pemeriksaan, pengacara beliau menggelar pertemuan dengan penyidik di ruang kerja Kajati Aceh.
Diluar ruangan kajati hanya ada saya, Hasan Basri selaku ajudan beliau, Radaan Bancin supir beliau dan pak Makmur sendiri. Kami berempat berdiri agak berjauhan. Dari tempatnya berdiri, tiba-tiba beliau memanggil saya dengan lambaian tangan. Kemudian saya pun menghampirinya.
"Silih, tolong tengenke kalak turangmu bak bere-bere muda. Mungkin aku ditahan kejaksaan warren. Sohken salamku mi dengan-dengan i Singkil. Artinya kira-kira seperti ini. (Adinda. Tolong perhatikan kakakmu dan anak-anak. Sampaikan juga salamku kepada kawan-kawan di Singkil. Mungkin saya ditahan kejaksaan hari ini)."
Duh, mendengar kalimat yang tercetus dari bibir seorang pemimpin yang selama ini begitu tegar dan berwibawa, perasaan saya jadi terenyuh. Hati saya bertanya. Dimana sudah kepercayaan dirimu? Dimana Ma'mur yang saya kenal selama ini? Tapi akhirnya saya sadar. Wajar, selaku manusia pasti mempunyai rasa was-was, cemas dan takut.
Maklum meski kita percaya bahwa kita tidak bersalah, namun kadang hukum berkata lain. Sebab, hukum di negeri ini tidak lagi berbicara tentang keadilan dan kebenaran. Keadilan itu hanya bisa dilewati oleh orang-orang yang kuat.
Usai beliau berpesan, saya langsung menjawab dengan nada tanya. "Bapak bicara apa?" Meski sebenarnya saya tau arah kalimat yang diucapkannya.
Saat itu juga saya langsung mensugesti beliau. "Tolong katakan bahwa bapak tidak bersalah. Ucapkan sekarang juga, agar Allah mengabulkan ucapan bapak," seru saya kepada beliau. Tanpa banyak bicara lagi beliau langsung menuruti dan mengucapkan kalimat, "Saya tidak bersalah. Sesungguhnya Engkau maha tahu ya Allah, katanya dengan suara bergetar"
"Kalau begitu, ya sudah, tidak ada masalah lagi. Besok kita sama-sama pulang ke Aceh Singkil. Kalau saya pulang besok, itu berarti saya pulang bersama bapak. Artinya kita harus pulang bersama. Percayalah, Allah telah mengetuk hati nurani para jaksa dan mengingatkan kepada mereka bahwa bapak tidak bersalah", saya mencoba meyakinkannya.
Mendengar kalimat itu, beliau langsung menggosok-gosok telapak tangannya dan mengusap wajahnya. "Terimakasih Adinda. Peristiwa ini sampai kapanpun tidak akan saya lupakan seumur hidup", sebutnya ketika itu.
Itulah sepenggal dialog yang sampai saat ini masih membekas dalam hati saya. Tapi dialog itu kini hanyalah kenangan. Ya, kenangan yang tersisa dari sekian ribu dialog yang pernah terucap dari bibir seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya.
Kini Makmursyah Putra sudah tiada, beliau tidak ada lagi bersama kita. Tugasnya sebagai abdi negara untuk mengurus rakyat dan membangun daerah ini telah berakhir sejak 15 tahun yang lalu.
Kita yang masih hidup ini, para pemimpin yang berkuasa hari ini hendaknya dapat meneladani sikap beliau dan meneruskan pembangunan yang belum terwujud seutuhnya.
Kita tidak perlu melihat masa lalu, karena yang ada dihadapan kita adalah masa kini. Kita Pun tidak perlu menggores luka baru diatas luka lama, sebab hal itu sangat menyakitkan bagi siapa saja. Kenangan manis maupun pahit tentu masih tertinggal disana, namun semua itu tidak perlu diingat.
Masa lalu tidak untuk diingat, tapi bukan pula untuk dilupakan. Terimakasih atas pengabdianmu sahabatku, semoga engkau berada disisiNya. Aamiin ya Allah. ||



