Sedot Perhatian Publik, Massa Gotong Keranda Mayat Temui Bupati Aceh Singkil

author
Helmi

11 Mar 2026 16:16 WIB

Sedot Perhatian Publik, Massa Gotong Keranda Mayat Temui Bupati Aceh Singkil
Aksi unjuk rasa di halaman Kantor Bupati Aceh Singkil, massa menggotong keranda mayat di hadapan Bupati Oyon, mempertanyakan data penerima rehab bantuan rumah korban terdampak bencana, Selasa (10/3/2026). Istimewa.
“Memantik perhatian publik, ratusan massa mengiringi arak-arakan keranda disertai teriakan asma Lailahaillallah dipertontonkan saat berlangsung unjuk rasa”

SINGKIL | inforakyat.coAksi unjuk rasa (Unras) ke Kantor Bupati Aceh Singkil masih terus berlanjut, kemarin massa datang dengan menggotong keranda mayat dan berkumpul di halaman kantor bupati, Selasa (10/3/2026).

Aksi massa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Menggugat (Format) kembali melayangkan protesnya terhadap kinerja pemerintahan Bupati Safriadi Oyon dan Wakil Bupati Hamzah Sulaiman.

Peserta aksi juga menuntut kejelasan terkait data penerima bantuan rehabilitasi rumah terdampak banjir dan longsor yang dinilai tidak tepat sasaran.

Dalam aksi itu massa turtu menggelar teatrikal dengan menggotong keranda yang diarak dari jalan protokol menuju halaman kantor bupati.

Salah satu orator menyerukan bahwa kerenda tersebut menjadi sebuah simbol kegagalan pemerintah Aceh Singkil dibawah kepemimpinan Safriadi Oyon dan Hamzah.

Ratusan massa mengiringi arak-arakan keranda disertai teriakan asma "Laillahaillallah" dipertontonkan saat berlangsung unjuk rasa hingga menyedot perhatian publik.

Seiring menggelar teatrikal, Budi Harjo dalam orasinya menyinggung bahwa data penerima bantuan rehabilitasi rumah terdampak banjir dan longsor yang terus berubah-ubah.

Padahal sebelumnya pemerintah daerah telah mengusulkan sebanyak 3.431 kepala keluarga (KK) sebagai calon penerima bantuan.

Namun setelah proses verifikasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah tersebut berkurang menjadi 565 kepala keluarga.

Ironisnya, sejumlah warga yang sebelumnya terdata justru tidak lagi masuk dalam daftar terbaru penerima bantuan tersebut.

"Dari data yang keluar, tiba-tiba namanya hilang di Desa Teluk Rumbia dan Pemuka. Ada masyarakat yang rumahnya rusak parah tidak masuk dalam daftar," seru Budi.

Herannya, sebelumnya sempat ada masuk dalam daftar penerima bantuan, nama seorang pejabat di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Singkil termasuk nama kerabatnya.

Bupati Aceh Singkil Safriadi Oyon, menghadapi langsung aksi massa tersebut mengatakan, nama pejabat tersebut telah dikeluarkan dari daftar penerima bantuan.

"Itu sudah dikeluarkan, tidak ada lagi namanya," kata Oyon.

Begitupun katanya, menyikapi banyaknya polemik terhadap data calon penerima tersebut sehingga hasil verifikasi penerima bantuan rehabilitasi rumah untuk sementara dianulir.

Pemkab akan kembali meminta tim verifikasi dari pemerintah pusat untuk melakukan pendataan ulang terhadap seluruh calon penerima bantuan rumah terdampak banjir di Aceh Singkil.

Salah seorang warga dari Desa Teluk Rumbia mengaku namanya hilang setelah dilakukan verifikasi. Ia berharap bantuan tersebut dapat dibagikan secara merata kepada warga yang terdampak.

Sementara itu, Kepala Bidang Perumahan Dinas PUPR Aceh Singkil, Asfi Raihan, mengatakan ada tiga desa di Kecamatan Singkil yang terlambat mengumpulkan data calon penerima bantuan.

"Pada tiga desa terjadi keterlambatan pengiriman data oleh kepala desa, yakni Desa Pemuka, Teluk Ambun, dan Pea Bumbung," ujarnya. ||

Tags terkait :