Tersulut Kecewa, Emak-emak di Aceh Tenggara Blokir Jalan Nasional, Minta Normalisasi Arus Sungai

author
Almujawadin

18 Dec 2025 00:58 WIB

Tersulut Kecewa, Emak-emak di Aceh Tenggara Blokir Jalan Nasional, Minta Normalisasi Arus Sungai
Puluhan emak-emak gelar aksi protes damai dengan cara memblokir jalan lintas Nasional Gayo Lues - Aceh Tenggara, Rabu (17/12/2025). INFORakyat.co/ Almujawadin.
“Puluhan emak-emak dirasuki amarah, mereka memblokir jalan nasional, meminta Bupati Aceh Tenggara menurunkan alat berat untuk mengalihkan aliran sungai yang terus menggerus pemukiman penduduk”

KUTACANE | inforakyat.co - Puluhan korban banjir terdiri dari emak-emak di Desa Ketambe, Aceh Tenggara provinsi Aceh, murka dan memblokir jalan lintas utama Kutacane - Gayo Lues, Rabu 17 Desember 2025.

Aksi damai yang dilakukan emak-emak tersebut sempat terjadi kemacetan, sejumlah kendaraan angkutan bantuan sempat tertunda.

Informasi dihimpun, para emak-emak meminta Bupati Aceh Tenggara segera menurunkan alat berat untuk memindahkan aliran arus sungai yang hingga kini terus menggerus memasuki pemukiman warga.

Kaum Hawa itu membawa puluhan kertas karton (foster) bertuliskan kecaman dan unek-unek terhadap kebijakan pemerintahan, warga mendesak pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara agar melakukan normalisasi arus sungai untuk mengaliri kawasan semula serta menghindari abrasi dan pengikisan pemukiman penduduk meluas.

Kepala Desa Ketambe, Lahat meminta pemerintah daerah secepatnya menurunkan alat berat ke lokasi agar warga merasakan nyaman, jika tidak aksi blokir jalan ini akan terus berlanjut sampai pemerintah daerah turun tangan.

"ukan muluk-mulut, warga hanya meminta aliran sungai yang sudah menggerus pemukiman penduduk dialihkan ke tempat semula. Apabila lambat ditangani, maka arus sungai pasca banjir terus menghantam dan melebar ke pemukiman penduduk. Ini kewajiban pemerintah, bukan hanya diam sampai ada korban," tegas Lahat kepada inforakyat.co.

Selain diminta memindahkan aliran sungai yang mengancam pemukiman penduduk, pihaknya juga mendesak pemerintah bersihkan material kayu yang masih bertumpukan bantaran dan daerah aliran sungai (DAS).

"Pasca bencana alam, kondisi buruk masih dialami masyarakat Ketambe, apabila aspirasi warga belum disahuti, maka pemblokiran jalan ini tetap berlanjut. Seharusnya pemerintah daerah terus berupaya memulihkan situasi, saat ini aliran sungai sudah parah, apalagi saat hujan tiba," imbuh Kepala desa.

Masih keterangan Kepala desa Ketambe, warga juga mendesak Bupati Aceh Tenggara untuk segera mendirikan tendapengungsian untuk 66 kepala keluarga (KK) yang sudah kehilangan tempat tinggal akibat diterjang banjir dan luapan air sungai.

"Masyarakat sebagai korban terdampak sudah tidak apa-apa, saya kira wajar emak-emak meminta perhatian dan kepedulian pemerintah. Kami harap bupati dapat menyahuti aspirasi warga," tutup Lahat. ||

Tags terkait :