“Berawal 1.000 ekor bibit Puyuh petelur, dibeli pada bulan Oktober 2025, kini perkembangbiakannya tumbuh pesat menjadi 3.000 ekor, dan sudah berproduksi 85 %, tiap hari menghasilkan 2.500 sampai 2.600 telur. Kendala yang dihadapi adalah pemasaran,” kata Direktur BUMG, Asmadi.
TAPAKTUAN | INFORakyat.co – Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Harapan Bersama di Gampong (Desa) Tepi Air Kecamatan Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Aceh membangun usaha produktif berbasis ketahanan pangan dengan membudidayakan Puyuh petelur, sejak Oktober 2025.
Direktur BUMG Harapan Bersama Gampong Tepi Air, Asmadi, menyampaikan bahwa pihaknya terkendala pemasaran dari hasil produksi budidaya Puyuh, namun pihaknya masih bisa memetik omset kotor sebesar Rp.30 juta per bulan.
"Berawal 1.000 ekor bibit Puyuh petelur, dibeli pada bulan Oktober 2025, kini perkembangbiakannya tumbuh pesat menjadi 3.000 ekor, dan sudah berproduksi 85 %, tiap hari menghasilkan 2.500 sampai 2.600 telur. Kendala yang dihadapi adalah pemasaran," kata Direktur BUMG, Asmadi didampingi Sekretaris Desa (Sekdes) dan Tuha Peut Gampong Tepi Air di lokasi, Jumat, 17 April 2026.
Populasi Puyuh petelur yang dikelola BUMG Harapan Bersama, saat ini sudah berjumlah 3.000 ekor dengan perawatan dan pemeliharaan yang cukup baik dan insentif.

Baca Juga:
H. Armia Tekankan Guru Mampu Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman, Tunjang Kualitas Pendidikan
Untuk mendongkrak perkembangbiakan, pihak mengaku sudah menyediakan peralatan penetas telur. Tujuannya, agar penambahan bibit tidak lagi di beli dari Medan, Sumatera Utara yang harganya mencapai Rp.13.000 per ekor.
"Walaupun masih tahapan uji coba, alat penetas telur Puyuh elektronik mampu menghasilkan 50 ekor bibit per 18 hari. Jika peralatan ini dapat dimanfaatkan secara kontinyu, maka secara otomatis polusinya bisa meningkat drastis. Kita hanya menyediakan peralatan penetas optimal," paparnya.
Baca Juga:
Muara Sungai Dangkal!! Doni Maradonna Minta Anggota DPR-RI Bawa Solusi Abrasi di Aceh Singkil
Asmadi mengakui, hasil produksi telur Puyuh BUMG Harapan Bersama gampong Tepi Air, dijual dengan harga terjangkau, dan lokasinya mudah ditemui, yakni dengan menembusi jalan samping Dinas Kesehatan Aceh Selatan ke kantor desa sebelum SD Negeri 8 Tapaktuan.
BUMG Harapan Bersama menyediakan penjualan telur puyuh paket murah, satu papa nisi 100 butir dibanderol Rp.45.000. Jika diambil banyak dan rutin, bisa dinego.
Selain telur, pihaknya juga menjual Puluh jantan ketika usianya diambang normal. "Puluh jantan yang usianya sudah diambang batas produksi dijual Rp.8000 per ekor. Namun penjualannya tidak terlalu banyak, tergantung kondisi di lapangan," ungkap Asmadi lagi.
Menurut Tuha Peut Tepi Air Tapaktuan, Saipul Rahman, kendala pemasaran yang dihadapi karena pihak yang membutuhkan belum mengetahui dan memanfaatkan produksi lokal, termasuk toko-toko sembako, rumah makan, Catering dan Yayasan Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG), baik di kawasan Aceh Selatan maupun di luar kabupaten.
Dari hasil kerja keras dan lobi yang dilakukan pihak pengurus BUMG, saat ini sudah ada MBG dan pengusaha kuliner yang mau bekerjasama, dan menjadikan produksi BUMG Harapan Bersama sebagai pemasok telur Puyuh.
Baca Juga:
Baru Mendekam di Rutan, Sat Reskrim Kembali Bekuk Pelaku atas Dugaan Curanmor di Aceh Selatan
"Laporan kami terima dari pengurus BUMG, dapur MBG Berkah Cahaya dan Usaha Kito Bersama Tapaktuan mulai mengorder telur Puyuh kita. Bahkan PT Ummi Resto dan Galeri Rumah Rajo Tapaktuan, juga telah nimbrung sebagai pembeli. Ini adalah langkah baik dalam meningkatkan perekonomian daerah," tandas Saipul Rahman.
Saipul Rahman juga menyampaikan, jika ada pihak yang berminat berlangganan atau memesan telur Puyuh produksi BUMG Harapan Bersama gampong Tepi Air Tapaktuan, rekanan dalam kabupaten Aceh Selatan maupun luar daerah, dapat menghubungi kontak person pengurus di nomor: 0822-7710-8090, atas nama Asmadi.
Lebih lanjut, pihak pengelola BUMG juga berharap semoga pemerintah daerah dapat mengarahkan pemilik Yayasan dan dapur MBG untuk mengutamakan produk lokal dalam membantu perekonomian daerah menuju desa mandiri. ||





