Menlu Sugiono: Rapat Diinisiasi Prancis dan Inggris, Negara-negara Tolak Pungutan kapal yang melewati Selat Hormuz

author
Redaksi

Kemarin, Pukul 21:28 WIB

Menlu Sugiono: Rapat Diinisiasi Prancis dan Inggris, Negara-negara Tolak Pungutan kapal yang melewati Selat Hormuz
Menlu RI, Sugiono. INFORakyat/Net.Kumparan.
“Pertama, bahwa negara-negara yang ikut dalam konferensi menolak segala jenis pungutan fee atau toll bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz. Rapat itu diinisiasi Negara Prancis dan Inggris,” ucap Menteri Luar Negeri RI, Sugiono.

JAKARTA | INFORakyat.CO – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), mengikuti rapat secara online dengan sejumlah negara membahas blokade Selat Hormuz.

Menlu RI, Sugiono menyebutkan bahwa pelaksanaan rapat itu diinisiasi oleh negara Prancis dan Inggris. Dalam rapat itu negara-negara menyatakan menolak segala jenis pungutan bagi kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.

Rapat melalui daring tersebut mengupas tentang Iran yang sebelumnya dilaporkan mulai mendorong penggunaan mata uang kripto sebagai bagian dari sistem pembayaran tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

"Pertama, bahwa negara-negara yang ikut dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee atau toll bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz.Hal tersebut bertentangan dengan apa yang dikenal dengan freedom of navigation," kata Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip lansiran Kumparan, Rabu, 22 April 2026.

Sugiono mengatakan, meski Selat Hormuz dikuasai oleh Iran, jalur laut perdagangan penting itu juga bersinggungan dengan Oman dan Uni Emirat Arab (UEA).

"Pembahasan kedua, konferensi ini mengatakan akan terus mendukung upaya-upaya yang sifatnya diplomasi dan negosiasi politis dalam rangka menyelesaikan ketegangan di Selat Hormuz," ujar politisi Partai Gerindra itu.

Menteri Kabinet Merah Putih yang dilantik pada 21 Oktober 2024 itu, memaparkan isi rapat terakhir, yakni rencana untuk menempatkan perlindungan militer yang damai (peaceful military protection) bagi kapal-kapal yang melalui atau melintasi Selat Hormuz.

"Jadi kapal-kapal yang lewat di situ itu dikawal dalam misi mengawal untuk bisa lewat. Tapi tentu saja ini masih dalam pembicaraan yang lebih lanjut. Ya, proposal yang diajukan, perdamaian logistik," imbuh Sugiono.

Secuil ia menyoroti pernyataan negara-negara, bahwa yang melewati Selat Hormuz bukan cuma kapal minyak. Yang lewat Selat Hormuz itu berbagai macam produk dan keperluan.

"Jadi kurang lebih seperti itu. Normalisasi yang tadi disampaikan, ya, tentu saja upaya-upaya de-mining juga dilakukan, membersihkan ranjau-ranjau laut yang ada di sekitar Selat Hormuz," pungkasnya. ||

Sumber: Kumparan.

Tags terkait :