“Persediaan stok menipis dan nyaris langka, pendistribusian dari distributor terbatas dan nyaris kosong, harga beras naik drastis selama memasuki Juli 2025,” kata Azmir pedagang Pasar Inpres Tapaktuan.
TAPAKTUAN, INFORakyat.co – Sejak dua pekan terakhir (Juli 2025) pendistribusian (pasokan) kebutuhan pokok utama (beras) menipis di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, bahkan di sejumlah toko mulai kosong stok, harganya-pun melambung "mencekik" ekonomi rakyat.
Investigasi wartawan media ini di sejumlah titik, menunjukkan harga beras mengalami kenaikan signifikan, faktor utama akibat pendistribusian dari distributor yang tidak lancar hingga berakibat persediaan beras di toko-toko pengecer nyaris langka.
"Harga beras terus melambung naik, sementara stok di toko-toko mulai menipis dan sulit ditemukan jenis tertentu sebagaimana sebelumnya. Sudah harga naik, persediaan kurang ditambah lagi perekonomian masyarakat morat-marit. Kondisi ini sama halnya mencekik leher rakyat," ujar Maimunah kepada INFORakyat di salah satu toko, Minggu (20/7/2025).
Pedagang kebutuhan pokok di Pasar Inpres Tapaktuan, Azmir (47 tahun), menyebutkan, selama ini pihaknya mengencer beras berbagai jenis dan merek. Sekarang sulit disorder, paling dapat 30 persen dari jumlah yang dibutuhkan. Malah pekan ini nyaris tidak ada.
"Persediaan stok menipis dan nyaris langka, pendistribusian dari distributor terbatas dan nyaris kosong, harga beras naik drastis selama memasuki Juli 2025," kata Azmi.
Baca Juga:
3 Terduga pelaku Perambahan Hutan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Diciduk Satreskrim Aceh Selatan

Ia mengaku mengencer beras jenis premium seharga Rp 28.000 per bambu atau setara Rp 17.500 per kilogram. "Kalau per sak isi 25 kg saya jual Rp 415.000, isi 15 seharga Rp 250.000. Harga sebelumnya tidak sampai segitu, Rp 320.000 per sak isi 25 kg dan Rp 225.000 untuk isi 15 kg. Namun stok beras hanya tinggal beberapa sak lagi bang," ucapnya.
Ucapan senada juga disampaikan Ruswin, katanya, kalau persediaan peras ada dan mencukupi tidak ada masalah kalau harga naik. Ini malah sebalik, bisa jadi persediaan beras akan langka di Pasar Inpres Tapaktuan.
Baca Juga:
206 Pelajar SMP se Aceh Selatan Berlaga Dikompetisi FLS3N dan O2SN, Ini peraih Juara selengkapnya
"Saya masih ada beberapa sak lagi stok lama dan masih modal sebelum mengalami kenaikan, bisa jual Rp 350.000 isi karung 20 kg. Kalau stok ini habis, saya nggak tahu harus bagaimana dan berapa harga yang akan timbul," jawab Ruswin singkat.
Sementara itu, karyawan di supermarket Pante Cahaya sebagai pedagang beras terbesar di kota Tapaktuan, juga mengucapkan hal serupa.
Baca Juga:
206 Pelajar SMP Aceh Selatan bergelut di event nonakademik, Kompetisi FLS3N dan O2SN membanggakan
"Stok beras lagi kosong bang, cuma jenis medium yang ada, inipun tidak banyak lagi. Kita tidak tahu mengapa pendistribusian beras terkesan ada kendala. Beras medium kami jual Rp 250.000 per sak isi 15 kg," sergah karyawan Pante Cahaya Syukur (25 tahun).
Sebelum memantau kondisi dan harga beras di Pasar Inpres Tapaktuan, Inforakyat mencoba petik kondisi di sebuah toko di Kecamatan Samadua. Kondisinya juga sama, stok beras kurang dan harga naik.
"Agak sulit dapat beras bang, tadi saya order beberapa puluh sak, hanya dapat 10 sak merek Payung. Ini aneh, belum pernah terjadi pendistribusian beras seperti saat ini," ungkap Arpandi.
Sembari sibuk melayani pembeli beras, Arpandi turut merinci harga beras yang di ecer di tokonya. Merek Payung saat ini Rp 250.000 per sak isi 15 kg, sebelumnya berkutat Rp 225.000 per kg. Merek Laris Rp 240.000 per sak, sebelumnya hanya Rp215.000 per sak isi 15 kg dan merek Sajiku Rp 240.000 per sak, Rp 212.000-Rp 215.000 per sak.
Sejumlah warga Aceh Selatan berharap pihak Bulog Perum Cabang Aceh Selatan, Bupati Aceh Selatan, Kepala Perum Bulog Kanwil Aceh dan Kepala Badan Pangan Nasional RI melakukan langkah-langkah positif, cepat dan tepat dalam upaya penstabilan harga berasa dan pendistribusian lancar.
Sekarang bukan lagi zaman perang atau masa penjajahan yang serba sulit dan kekurangan pangan, pemerintah harus bijak menindaklanjuti keluhan masyarakat terhadap kondisi harga dan persediaan beras.
"Pemerintah daerah, provinsi maupun pusat diminta turun tangan untuk melakukan operasi Pasar dan penyaluran program Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP). Jangan biarkan masyarakat menderita. ika tidak, bisa jadi masyarakat akan mengonsumsi sagu," celetuk Muhammad Samsul. ||





