“Bertahun berlalu, kenalnya pemerintah menutup mata melihat anak-anak sekolah Desa Serasah, Simpang Kanan Aceh Singkil pulang pergi ke sekolah menyeberang dengan perahu. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena berhadapan dengan risiko,” celetuk Ketua AMPAS, Syahrul Manik.
ACEH SINGKIL | INFORakyat.co —Ketua Aliansi Muda Penggerak Aceh Singkil (AMPAS) angkat bicara menyoroti kondisi siswa di Desa Serasah, Kecamatan Simpang Kanan, yang masih harus menyeberangi sungai dengan perahu saat pulang pergi bersekolah, buntut jembatan hancur diterjang banjir tahun 2023 lalu.
Ketua AMPAS, Syahrul Manik, menegaskan kondisi tersebut sama hal nya dengan prinsip tidak berkeadilan dan terkesan pemerintah daerah menutup mata.
"Semestinya, praktik tersebut tidak boleh lagi terjadi karena membahayakan keselamatan siswa-siswi. Makna prioritas pengembangan pendidikan, kemakmuran dan kesejahteraan seperti slogan. Buktinya, masih ada siswa-siswi pulang sekolah harus menumpang perahu disebabkan jembatan gantung telah hancur," tegas Syahrul Manik melalui keterangannya, Ahad, 03 Mei 2026.
Ketua AMPAS Aceh Singkil menyebut kondisi ini sebagai cerminan belum meratanya akses pendidikan dan gerakan pembangunan di kawasan daerah terpencil.

"Tidak seharusnya di era saat ini, anak-anak masih harus bertaruh nyawa dan dikhawatirkan mengalami risiko saat pulang pergi ke sekolah. Apalagi diantaranya masih bocah dan duduk di bangku sekolah SD Desa sebelah.
Ia menyebutkan bahwa siswa-siswi dari Desa Serasah diketahui harus menuju sekolah di Desa Cibubukan dengan perahu, serta diduga bermuatan tidak lazim, Kondisi itu dilalui siswa-siswi setempat setelah jembatan penghubung antar desa putus akibat banjir pada 2023.
Baca Juga:
Bergengsi!! Unggul di Barat Selatan, Kapolres Aceh Selatan Terima Penghargaan IKPA Peringkat Pertama
Lebih heran, lanjut Syahrul Manik, setelah hancur diterjang banjir hingga tidak berfungsi, sampai tahun 2026 belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali untuk kelancaran transportasi.
Menurut Ketua AMPAS, kondisi tersebut menjadi perhatian publik setelah viral dalam tayangan video yang diunggah melalui Medsos. Terlihat aktivitas siswa ramai-ramai menyeberang sungai saat pergi ke sekolah.
Dalam video itu, ungkap Syahrul Manik, para siswa juga menyampaikan harapan agar pemerintah segera membangun kembali jembatan yang rusak. Tidak tanggung-tanggung, aspirasi tersebut disampaikan secara terbuka kepada bapak Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga:
Hari Pers Dunia, PWI Nagan Raya Ajak Jurnalis Jaga Integritas dan Profesionalisme Menyajikan Berita
Masih keterangan AMPAS, peringatan Hardiknas 2026, seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum refleksi untuk memastikan seluruh anak-anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang aman dan tidak berdampak risiko.
AMPAS mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan segera mengambil langkah konkret, termasuk percepatan pembangunan kembali jembatan penghubung Desa Serasah–Desa Cibubukan.
Baca Juga:
Dewan Pers: Jurnalisme Berkualitas Jadi Pilar Demokrasi Masa Depan Damai Adil dan Penjernih
"Jika negara benar-benar hadir, maka tidak boleh ada lagi anak yang bertaruh nyawa demi ke sekolah seperti dialami warga desa Serasah, Simpang Kanan Aceh Singkil Provinsi Aceh," himbau Syahrul.
Hingga kini, siswa-siswi masih bergantung pada perahu satu-satunya akses transportasi menuju Sekolah. Keadaaan ini bisa dikatakan tidak sejalan dengan semangat pemerataan pendidikan di Indonesia, dan program prioritas Presiden Prabowo.||














