AMPAS: Pemerintah Jangan Tutup Mata, Siswa Aceh Singkil Menyeberang Sungai ke sekolah Penuh Risiko

author
Sahab Hadafi

Kemarin, Pukul 15:04 WIB

AMPAS: Pemerintah Jangan Tutup Mata, Siswa Aceh Singkil Menyeberang Sungai ke sekolah Penuh Risiko
Anak-anak sekolah dari Desa Serasah Kecamatan Simpang Kanan menyeberangi sungai menggunakan perahu untuk pulang pergi ke Sekolah di desa sebelah. | Dok. Sahab Hadafi.
“Bertahun berlalu, kenalnya pemerintah menutup mata melihat anak-anak sekolah Desa Serasah, Simpang Kanan Aceh Singkil pulang pergi ke sekolah menyeberang dengan perahu. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena berhadapan dengan risiko,” celetuk Ketua AMPAS, Syahrul Manik.

ACEH SINGKIL | INFORakyat.co —Ketua Aliansi Muda Penggerak Aceh Singkil (AMPAS) angkat bicara menyoroti kondisi siswa di Desa Serasah, Kecamatan Simpang Kanan, yang masih harus menyeberangi sungai dengan perahu saat pulang pergi bersekolah, buntut jembatan hancur diterjang banjir tahun 2023 lalu.

Ketua AMPAS, Syahrul Manik, menegaskan kondisi tersebut sama hal nya dengan prinsip tidak berkeadilan dan terkesan pemerintah daerah menutup mata.

"Semestinya, praktik tersebut tidak boleh lagi terjadi karena membahayakan keselamatan siswa-siswi. Makna prioritas pengembangan pendidikan, kemakmuran dan kesejahteraan seperti slogan. Buktinya, masih ada siswa-siswi pulang sekolah harus menumpang perahu disebabkan jembatan gantung telah hancur," tegas Syahrul Manik melalui keterangannya, Ahad, 03 Mei 2026.

Ketua AMPAS Aceh Singkil menyebut kondisi ini sebagai cerminan belum meratanya akses pendidikan dan gerakan pembangunan di kawasan daerah terpencil.

Kondisi siswa-siswi naik perahu pulang pergi ke sekolah, Desa Serasah, Simpang Kanan, Aceh Singkil. Dok Shab Hadafi.

"Tidak seharusnya di era saat ini, anak-anak masih harus bertaruh nyawa dan dikhawatirkan mengalami risiko saat pulang pergi ke sekolah. Apalagi diantaranya masih bocah dan duduk di bangku sekolah SD Desa sebelah.

Ia menyebutkan bahwa siswa-siswi  dari Desa Serasah diketahui harus menuju sekolah di Desa Cibubukan dengan perahu, serta diduga bermuatan tidak lazim, Kondisi itu dilalui siswa-siswi setempat setelah jembatan penghubung antar desa putus akibat banjir pada 2023.

Lebih heran, lanjut Syahrul Manik, setelah hancur diterjang banjir hingga tidak berfungsi, sampai tahun 2026 belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali untuk kelancaran transportasi.

Menurut Ketua AMPAS, kondisi tersebut menjadi perhatian publik setelah viral dalam tayangan video yang diunggah melalui Medsos. Terlihat aktivitas siswa ramai-ramai menyeberang sungai saat pergi ke sekolah.

Dalam video itu, ungkap Syahrul Manik, para siswa juga menyampaikan harapan agar pemerintah segera membangun kembali jembatan yang rusak. Tidak tanggung-tanggung, aspirasi tersebut disampaikan secara terbuka kepada bapak Presiden Prabowo Subianto.

Masih keterangan AMPAS, peringatan Hardiknas 2026, seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum refleksi untuk memastikan seluruh anak-anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang aman dan tidak berdampak risiko.

AMPAS mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan segera mengambil langkah konkret, termasuk percepatan pembangunan kembali jembatan penghubung Desa Serasah–Desa Cibubukan.

"Jika negara benar-benar hadir, maka tidak boleh ada lagi anak yang bertaruh nyawa demi ke sekolah seperti dialami warga desa Serasah, Simpang Kanan Aceh Singkil Provinsi Aceh," himbau Syahrul.

Hingga kini, siswa-siswi masih bergantung pada perahu satu-satunya akses transportasi menuju Sekolah. Keadaaan ini bisa dikatakan tidak sejalan dengan semangat pemerataan pendidikan di Indonesia, dan program prioritas Presiden Prabowo.||

Tags terkait :