Rahasia Tersembunyi Wisata Alam Aceh Tenggara, Terkandung di Rahim Paru-Paru Dunia

author
Almujawadin

01 Jul 2025 20:14 WIB

Rahasia Tersembunyi Wisata Alam Aceh Tenggara, Terkandung di Rahim Paru-Paru Dunia
Hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di potret melalui sudut pondok reot desa Terutung Megara Bakhu, Kecamatan Lawe Sumur, Aceh Tenggara, Aceh ketika matahari akan tenggelam. INFORakyat/Al Mujawadin.
“Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) lebih dikenal sebagai nadi paru-paru dunia menyimpan rahasia alam yang mengagumkan, kemolekannya aduhai, fantastis hingga mengundang pendatang dari belahan dunia”

KUTACANE, INFORakyat.co- Kelembutan hembusan angin petang seakan-akan menjadi sugesti menghela daya tarik pengunjung saat menghirup hijau dedaunan situasi alam pegunungan yang bersarang di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.

Terkadang perjalanan diiringi rintik hujan, bergemericik memberi alunan nada seakan menjadi nada musik alami ketika memantul rimbunnya daun pepohonan di Rahim paru-paru dunia di Desa Terutung Megara Bakhu, Kecamatan Lawe Sumur, Aceh Tenggara.

Perjalanan sore dengan langkah sedikit tertatih, mengikuti alur jalan yang berkelok, menelusuri  celah pepohonan nan rimbun, sekali-kali terdengar kicauan burung terbang seakan menyapa kehadiran pengunjung di areal panorama rahasia dan keindahan dibalik kodratnya yang asri.

Keperkasaan hutan terbentang di wilayah Aceh Tenggara merupakan sudut besar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) atau yang lebih dikenal sebagai inti (nadi) paru-paru di daratan Pulau Sumatera.

Keindahan Masjid agung At-Taqwa menjadi simbol islami dan serambi Mekah Aceh di Indonesia di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Foto: Google.

"Hutan Gunung Leuser merupakan surga tersembunyi yang berada di dua garis provinsi Sumatera Utara (Sumut), sebagian kecil terletak di kaki gunung TNGL. Wilayah Aceh berada di titik inti TNGL dengan luas wilayah 830.268,95 Hektar," kata Enda Dinda Suranta sekedang Ketua Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Gunung Leuser Aceh, Selasa (1/7/2025).

Ketika bertemu di markas besar Mapala UGL Aceh, Enda Dinda Suranta sekedang mengatakan, keindahan alam Aceh Tenggara bukan saja hadir dari rimbunnya pepohonan, gemericik air dan kicauan burung, namun panorama yang menakjubkan terlihat saat matahari pagi (Fajar) menyingsing.

"Cahaya sinar matahari pagi yang kemerah-merahan bukan hanya hadir menerangi mayapada tetapi menyuguhkan sensasi terindah dan memantik Kesan tersendiri. Ketika malam, sunset (matahari tenggelam) juga terlihat cantik saat memasuki rongga malam disertai munculnya gemerlap cahaya bintang. Semu aitu membingkiskan sebuah Rahmat alam yang tersembunyi di Aceh Tenggara," ungkap Ketua Mapal aitu.

Kesibukan berselancar menikmati keindahan alam, terhenti saat lantunan azan berkumandang memasuki waktu shalat magrib. Gema panggilan shalat  dari mikrofon masjid yang berada di pinggiran pegunungan membuat nuansa pengunjung lebih nyaman untuk bersujud.

"Simbol Keagungan Sang Pencipta juga bertahta dan bersemayam di sana, seakan-akan suara adzan memberi petunjuk semua makhluk tertunduk dalam syukur dan ketaqwaan," imbuh Enda Dinda Suranta.

Terlihat turis mancanegara mengarungi sungai alas menggunakan perahu (boat) karet di sungai Alas, Aceh Tenggara. Sumber: Mapala UGL Aceh.

Masjid At-Taqwa merupakan simbol dari islamiah dan ikon dari julukan serambi Mekah di wilayah Aceh yang terangkum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dari berbagai sudut pandang dan kemolekan alam yang dimiliki, sehingga banyak pengunjung berdatangan, bukan sekedar ilusi tetapi menikmati anugerah sang pencipta di kawasan nadi paru-paru dunia.

Menurut kaum muslim, rasanya belum lengkap dan afdol jika belum shalat dan melihat serta mengabadikan  keindahan ornamen lokasi Masjid At-Taqwa yang dikelilingi tanaman pohon kurma layaknya di Timur Tengah.

"Hal menarik, memasuki wilayah batas masjid pengunjung harus menggunakan pakaian religi, untuk laki-laki memakai celana panjang atau sarung serta baju yang sopan.Sementara perempuan dilarang memakai pakaian ketat, pendek atau berbusana syari"ah" ungkap Arifin salah seorang penjaga yang dikagumi itu.

Sajian alam Aceh Tenggara tampak tak habis di jelajah dalam waktu yang singkat, hutannya tampak asri dan masih perawan, terasa begitu sempurna dan segar. Jika dipandang ke arah bawah dari perbukitan, tampak percikan alir mengalir di antara ruas bukit mengikuti arus dan memukul bebatuan.

Sungai Alas merupakan lokasi yang mampu menghipnotis penggemar permainan air, seperti permainan ekstrim arung Jeram.  Pasukan pendayung meneguk sensasi heroik, bertarung terjangan ombak sungai kecil yang memopor lekuk arus hingga menawarkan refleksi yang tidak diperjualbelikan.

Tidak heran, jika kawasan itu sering didatangi para turis mancanegara, mereka (turis) bercanda asyik menggunakan perahu karet. Maknanya, sungai alas bukan sekedar cerita baru bagi penikmat sensasi alam, tetapi wisata terindah yang tersembunyi.

"Gelombang air sesekali menerjang dinding bebatuan, meleok dikelokan, membawa naluri dalam alam sadar kenikmatan, air hijau yang jernih bersumber dari seleksi alam dan alami menambah ketertarikan dan akan datang lagi untuk meraih keindahan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara," sebut Muhammad Rizki alias Derbeg selaku skipper (pendayung) perahu boat.

Masyarakat sekitar dikenal ramah, bukan hanya dengan alam melainkan dengan semua pengunjung. "Objek wisata ini bisa maju dan berkembang jika mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah.

"Bukan sekedar membanggakan ciptaan alam oleh sang pencipta, namun perlu dikembangkan hingga menjadi eksotis mendunia, tentu akan mendatangkan pendapatan daerah dan pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan. Bergeraklah wahai jiwa-jiwa perubahan untuk memajukan wisata Aceh Tenggara," tukas M. Riski Derbeg menutup komentarnya.||

Tags terkait :

Editor : Redaksi

Kanal : Wisata